Wajah Sebelum Disusun
Lampu kamar mandi menyala dengan bunyi kecil. Pintu belum dikunci.
Lantai dingin di telapak kaki. Badan masih membawa berat tidur — bukan kantuk, hanya berat, seperti tas yang belum diturunkan sejak semalam. Napas keluar pelan, dan di ruangan sekecil ini suaranya terdengar.
Cermin di atas wastafel tidak pernah benar-benar bersih. Ada bercak sabun di sudut kanan bawah, percikan yang mengering jadi titik-titik putih. Uap dari semalam masih menempel tipis di bagian tepi.
Di kaca itu ada wajah.
Bukan wajah yang nanti masuk lift kantor. Bukan wajah yang menjawab panggilan, atau yang muncul kecil di pojok layar rapat daring. Wajah yang ini belum diminta apa-apa. Kelopaknya masih berat. Ada bekas sarung bantal di pipi kiri, garis tipis yang akan hilang sendiri sebelum sempat dipikirkan. Rambut berdiri ke arah yang tidak dipilih siapa-siapa.
Wajah itu dilihat sebentar. Hanya sebentar.
Mata bertemu mata di kaca, dua detik, mungkin kurang, lalu turun ke keran. Tangan memutar keran, air keluar, dingin semalaman masih ikut di dalamnya. Wajah dibasuh. Sikat gigi diambil. Yang ditatap sekarang bukan lagi wajah, tapi busa, gerakan tangan, titik di kaca yang bukan mata.
Di dada ada sesuatu yang belum bangun penuh, belum berjaga. Tidak nyaman, tidak juga tenang.
Wajah pagi ini seperti tempat tidur yang baru ditinggalkan. Kusut di tempat-tempat yang tidak diputuskan oleh siapa-siapa. Sebentar lagi ia akan dirapikan — bukan dengan niat, hanya dengan kebiasaan: air, sabun, handuk, sisir.
Berkumur. Air dibuang. Wajah di kaca sekarang lebih basah, lebih bangun, sudah mulai bergerak ke arah hari.
Di gantungan pintu ada handuk. Di kamar, lemari menunggu dibuka. Di meja, ponsel sudah menyala beberapa kali sejak subuh — grup keluarga, grup kerja, satu tanda merah yang belum dibuka. Suara di dalam rumah masih suara yang dipakai sendirian; sebentar lagi, di ambang-ambang pintu yang berbeda, ia akan berubah-ubah tanpa diputuskan.
Tapi itu nanti.
Sekarang baru wastafel, dan air yang menetes pelan dari ujung dagu. Tetesannya jatuh ke keramik, satu-satu, dengan jarak yang tidak diatur. Di luar pintu terdengar rumah mulai bergerak — langkah, gesekan kursi, bunyi air dari dapur. Belum ada yang memanggil. Sebentar lagi ada. Bercak sabun di sudut kaca itu sudah ada sejak entah kapan. Tidak pernah dibersihkan — bukan karena dibiarkan, hanya tidak pernah masuk dalam daftar apa pun.
Handuk diangkat. Wajah dikeringkan dengan dua-tiga tekanan, tanpa melihat kaca lagi.
Lampu kamar mandi dimatikan. Di kaca yang gelap itu mungkin masih ada bayangan yang bergerak keluar, tapi tidak ada yang menoleh untuk memeriksanya.
Hari mulai meminta. Pelan-pelan dulu — baju, sarapan, jam di dinding. Nanti makin banyak.
Dan wajah yang tadi, yang kusut ke arah yang tidak dipilih siapa-siapa, tinggal di kamar mandi bersama uap yang belum hilang. Besok pagi ia ada lagi di tempat yang sama.
Dua Detik di Depan Cermin
Toilet kantor, lepas tengah hari. Pintu berayun menutup dan suara ruang kerja tertinggal di luar — dering telepon, printer, kalimat-kalimat yang putus di tengah. Di dalam tinggal bunyi air, dan kipas di langit-langit yang berputar untuk tidak ada siapa-siapa.
Wastafelnya tiga, berderet di bawah satu cermin panjang. Lampu putih, terang yang tidak mengenal jam. Tangan dibasuh. Sabun ditekan dari botolnya, baunya bau yang sama dengan semua toilet kantor di mana-mana.
Di cermin itu ada wajah, sejarak lengan.
Mata bertemu mata. Dua detik. Mungkin tiga.
Lalu turun — ke tangan, ke air yang berputar di lubang wastafel, ke noda kapur di leher kran. Noda itu ditatap lebih lama daripada wajah sendiri.
Tidak ada yang memutuskan itu. Mata turun lebih dulu daripada pikiran, tanpa aba-aba. Yang terasa hanya sesudahnya: leher yang melonggar sedikit begitu tatapan sudah pindah.
Padahal dekat sekali. Sejengkal kaca, sejengkal udara. Tidak ada wajah lain yang pernah sedekat itu, sesering itu, selama bertahun-tahun itu.
Dengan mata orang lain, tatapan bisa bertahan. Di ruang rapat, mata sanggup menatap lawan bicara sampai kalimatnya selesai. Dengan kasir minimarket, dengan satpam yang mengangkat portal, dua-tiga detik lewat begitu saja dan tidak ada apa-apa. Mata sendiri di kaca: dua detik, dan ada yang menyuruh turun tanpa pernah bersuara.
Kalau ada orang lain masuk dan berdiri di wastafel sebelah, urusan kaca selesai lebih cepat lagi. Dua wajah di cermin yang sama, dan masing-masing menatap tangannya sendiri. Sesekali mata bertemu mata orang itu di kaca — anggukan kecil, senyum sekilas yang dikerjakan pipi — lalu kembali ke sabun. Menatap wajah sendiri lama-lama di sebelah orang lain bukan hal yang dilakukan siapa pun di ruangan itu.
Mesin pengering menderu terlalu keras untuk tangan yang hampir kering sendiri. Pintu didorong. Suara kantor masuk lagi.
Lift di gedung ini berkaca di tiga sisinya. Kalau ada orang lain, mata menatap angka lantai yang berganti menyala. Kalau sendirian, sama saja — angka-angka itu juga yang ditatap, padahal di kiri, di kanan, di belakang, ada wajah sendiri berdiri sabar seperti orang yang sudah biasa tidak disapa.
Di kursi pangkas rambut, perkara ini lebih panjang. Tiga puluh menit duduk tepat di depan cermin besar, kain penutup sampai ke leher, dan wajah sendiri terpasang di sana seperti diumumkan. Mata ternyata penuh akal. Ia mengikuti gunting yang bergerak. Ia mengantar potongan rambut yang jatuh ke lantai. Ia membaca tulisan terbalik di kaca depan, memperhatikan motor yang lewat di pantulan jalan.
Sore, jalan pulang, etalase toko memantulkan badan yang lewat — sepotong bahu, sepotong langkah. Tanpa berhenti, tanpa menoleh penuh, punggung menegak barang dua senti sesudahnya. Itu pun tidak diputuskan siapa-siapa.
Di lampu merah, spion motor menampung sepotong wajah. Hanya sepotong — mata, sebagian dahi, tepi helm. Yang sepotong ini bisa ditatap agak lama. Angka di lampu masih belasan detik, dan mata di spion itu tidak buru-buru turun. Lampu berganti hijau lebih dulu.
Malam, kamar mandi rumah. Lampunya lebih kuning, cermin lebih kecil, gantungannya miring sedikit ke kiri sejak entah kapan. Sikat gigi menunggu di gelas plastik yang warnanya sudah pudar.
Odol ditekan. Mata sempat bertemu mata lagi di kaca — dua detik yang sama dengan siang tadi, dengan kemarin — lalu turun ke sikat, ke busa yang mulai putih di sudut bibir. Wajah itu ada di sana sepanjang menggosok gigi. Dua menit, sejengkal jarak. Yang ditatap: busa, kran, titik air kering di kaca yang letaknya bukan di mata.
Pernah, suatu malam, tatapan itu bertahan lebih lama dari biasanya. Empat detik, mungkin lima. Tidak terjadi apa-apa yang bisa diceritakan. Hanya ada yang mengetat pelan di dada, sehalus benang ditarik, dan napas sendiri yang tiba-tiba terdengar di ruangan sekecil itu. Lalu mata turun sendiri, dan gosok gigi berlanjut seperti tidak ada apa-apa, karena memang tidak ada apa-apa.
Di rumah ini ada laci yang dibuka dengan cara tertentu. Ditarik sejari, cukup untuk tangan menyelinap, mengambil gunting atau baterai, lalu didorong tutup lagi. Tidak pernah ditarik sampai habis relnya. Isinya kira-kira diketahui — kabel entah dari apa, kunci entah untuk pintu mana, kertas-kertas yang sudah lewat masanya. Tidak ada yang berbahaya di dalamnya. Laci itu hanya tidak pernah dibuka penuh, bertahun-tahun, dan rumah berjalan biasa saja.
Dibuka sejari. Diambil yang perlu — rambut sudah rapi, tidak ada sisa makanan di gigi, kerah sudah lurus — lalu didorong tutup. Dua detik cukup untuk semua keperluan itu. Lebih dari dua detik tidak diambil.
Yang ganjil tidak pernah datang sebagai pikiran utuh. Ia datang kecil, di tengah berkumur: wajah ini wajah yang paling sering dilihat orang lain, dan paling jarang dilihat sendiri. Orang-orang menatapnya lama — di rapat, di kondangan, di seberang meja makan — sementara pemiliknya menatapnya dua detik sehari, itu pun sambil memegang sikat gigi.
Pikiran kecil itu tidak tinggal. Ia lewat seperti rasa odol — tajam sebentar, lalu hilang ditelan kumur terakhir.
Air dibuang. Kran ditutup. Handuk kecil menyeka mulut, dua tekanan, selesai.
Lampu dimatikan. Di kamar, ponsel menyala dengan urusan-urusan yang besok saja. Kasur menerima berat badan dengan bunyi per yang sudah hafal.
Sebelum layar dikunci, ada satu foto acara kantor yang menandai nama. Wajah sendiri di foto itu diperbesar dengan dua jari, ditatap agak lama — lebih lama daripada di kaca mana pun hari ini — lalu aplikasi ditutup tanpa menyukai apa pun. Layar gelap. Di kaca layar yang gelap itu ada bayangan wajah lagi, samar, dan ponsel diletakkan menelungkup.
Besok ada lagi wastafel kantor dengan lampu putihnya, sabun yang baunya sama di mana-mana. Ada lift dengan angka-angka yang menyala berganti, etalase di jalan yang sama, spion di lampu merah yang sama, dan kursi pangkas yang bulan depan datang gilirannya. Wajah itu ikut ke semua tempat itu — sejarak lengan, sejengkal kaca, paling dekat dari segala yang dibawa.
Dua detik. Mungkin tiga. Lalu sikat gigi, lalu kran, lalu hari yang sudah menunggu di luar pintu.

