Lewati ke konten
OS

Memuat

My Universe — Human OS

Memuat Human OS_

Memuat Human OS000%
Modul · P6

Identitas & Nilai

Cermin & Kompas

Cermin dan Kompas

Prolog: Wajah Sebelum Disusun

Lampu kamar mandi menyala dengan bunyi kecil. Pintu belum dikunci.

Lantai dingin di telapak kaki. Badan masih membawa berat tidur — bukan kantuk, hanya berat, seperti tas yang belum diturunkan sejak semalam. Napas keluar pelan, dan di ruangan sekecil ini suaranya terdengar.

Cermin di atas wastafel tidak pernah benar-benar bersih. Ada bercak sabun di sudut kanan bawah, percikan yang mengering jadi titik-titik putih. Uap dari semalam masih menempel tipis di bagian tepi.

Di kaca itu ada wajah.

Bukan wajah yang nanti masuk lift kantor. Bukan wajah yang menjawab panggilan, atau yang muncul kecil di pojok layar rapat daring. Wajah yang ini belum diminta apa-apa. Kelopaknya masih berat. Ada bekas sarung bantal di pipi kiri, garis tipis yang akan hilang sendiri sebelum sempat dipikirkan. Rambut berdiri ke arah yang tidak dipilih siapa-siapa.

Wajah itu dilihat sebentar. Hanya sebentar.

Mata bertemu mata di kaca, dua detik, mungkin kurang, lalu turun ke keran. Tangan memutar keran, air keluar, dingin semalaman masih ikut di dalamnya. Wajah dibasuh. Sikat gigi diambil. Yang ditatap sekarang bukan lagi wajah, tapi busa, gerakan tangan, titik di kaca yang bukan mata.

Di dada ada sesuatu yang belum bangun penuh, belum berjaga. Tidak nyaman, tidak juga tenang.

Wajah pagi ini seperti tempat tidur yang baru ditinggalkan. Kusut di tempat-tempat yang tidak diputuskan oleh siapa-siapa. Sebentar lagi ia akan dirapikan — bukan dengan niat, hanya dengan kebiasaan: air, sabun, handuk, sisir.

Berkumur. Air dibuang. Wajah di kaca sekarang lebih basah, lebih bangun, sudah mulai bergerak ke arah hari.

Di gantungan pintu ada handuk. Di kamar, lemari menunggu dibuka. Di meja, ponsel sudah menyala beberapa kali sejak subuh — grup keluarga, grup kerja, satu tanda merah yang belum dibuka. Suara di dalam rumah masih suara yang dipakai sendirian; sebentar lagi, di ambang-ambang pintu yang berbeda, ia akan berubah-ubah tanpa diputuskan.

Tapi itu nanti.

Sekarang baru wastafel, dan air yang menetes pelan dari ujung dagu. Tetesannya jatuh ke keramik, satu-satu, dengan jarak yang tidak diatur. Di luar pintu terdengar rumah mulai bergerak — langkah, gesekan kursi, bunyi air dari dapur. Belum ada yang memanggil. Sebentar lagi ada. Bercak sabun di sudut kaca itu sudah ada sejak entah kapan. Tidak pernah dibersihkan — bukan karena dibiarkan, hanya tidak pernah masuk dalam daftar apa pun.

Handuk diangkat. Wajah dikeringkan dengan dua-tiga tekanan, tanpa melihat kaca lagi.

Lampu kamar mandi dimatikan. Di kaca yang gelap itu mungkin masih ada bayangan yang bergerak keluar, tapi tidak ada yang menoleh untuk memeriksanya.

Hari mulai meminta. Pelan-pelan dulu — baju, sarapan, jam di dinding. Nanti makin banyak.

Dan wajah yang tadi, yang kusut ke arah yang tidak dipilih siapa-siapa, tinggal di kamar mandi bersama uap yang belum hilang. Besok pagi ia ada lagi di tempat yang sama.

Chapter 1: Dua Detik di Depan Cermin

Toilet kantor, lepas tengah hari. Pintu berayun menutup dan suara ruang kerja tertinggal di luar — dering telepon, printer, kalimat-kalimat yang putus di tengah. Di dalam tinggal bunyi air, dan kipas di langit-langit yang berputar untuk tidak ada siapa-siapa.

Wastafelnya tiga, berderet di bawah satu cermin panjang. Lampu putih, terang yang tidak mengenal jam. Tangan dibasuh. Sabun ditekan dari botolnya, baunya bau yang sama dengan semua toilet kantor di mana-mana.

Di cermin itu ada wajah, sejarak lengan.

Mata bertemu mata. Dua detik. Mungkin tiga.

Lalu turun — ke tangan, ke air yang berputar di lubang wastafel, ke noda kapur di leher kran. Noda itu ditatap lebih lama daripada wajah sendiri.

Tidak ada yang memutuskan itu. Mata turun lebih dulu daripada pikiran, tanpa aba-aba. Yang terasa hanya sesudahnya: leher yang melonggar sedikit begitu tatapan sudah pindah.

Padahal dekat sekali. Sejengkal kaca, sejengkal udara. Tidak ada wajah lain yang pernah sedekat itu, sesering itu, selama bertahun-tahun itu.

Dengan mata orang lain, tatapan bisa bertahan. Di ruang rapat, mata sanggup menatap lawan bicara sampai kalimatnya selesai. Dengan kasir minimarket, dengan satpam yang mengangkat portal, dua-tiga detik lewat begitu saja dan tidak ada apa-apa. Mata sendiri di kaca: dua detik, dan ada yang menyuruh turun tanpa pernah bersuara.

Kalau ada orang lain masuk dan berdiri di wastafel sebelah, urusan kaca selesai lebih cepat lagi. Dua wajah di cermin yang sama, dan masing-masing menatap tangannya sendiri. Sesekali mata bertemu mata orang itu di kaca — anggukan kecil, senyum sekilas yang dikerjakan pipi — lalu kembali ke sabun. Menatap wajah sendiri lama-lama di sebelah orang lain bukan hal yang dilakukan siapa pun di ruangan itu.

Mesin pengering menderu terlalu keras untuk tangan yang hampir kering sendiri. Pintu didorong. Suara kantor masuk lagi.

Lift di gedung ini berkaca di tiga sisinya. Kalau ada orang lain, mata menatap angka lantai yang berganti menyala. Kalau sendirian, sama saja — angka-angka itu juga yang ditatap, padahal di kiri, di kanan, di belakang, ada wajah sendiri berdiri sabar seperti orang yang sudah biasa tidak disapa.

Di kursi pangkas rambut, perkara ini lebih panjang. Tiga puluh menit duduk tepat di depan cermin besar, kain penutup sampai ke leher, dan wajah sendiri terpasang di sana seperti diumumkan. Mata ternyata penuh akal. Ia mengikuti gunting yang bergerak. Ia mengantar potongan rambut yang jatuh ke lantai. Ia membaca tulisan terbalik di kaca depan, memperhatikan motor yang lewat di pantulan jalan.

Sore, jalan pulang, etalase toko memantulkan badan yang lewat — sepotong bahu, sepotong langkah. Tanpa berhenti, tanpa menoleh penuh, punggung menegak barang dua senti sesudahnya. Itu pun tidak diputuskan siapa-siapa.

Di lampu merah, spion motor menampung sepotong wajah. Hanya sepotong — mata, sebagian dahi, tepi helm. Yang sepotong ini bisa ditatap agak lama. Angka di lampu masih belasan detik, dan mata di spion itu tidak buru-buru turun. Lampu berganti hijau lebih dulu.

Malam, kamar mandi rumah. Lampunya lebih kuning, cermin lebih kecil, gantungannya miring sedikit ke kiri sejak entah kapan. Sikat gigi menunggu di gelas plastik yang warnanya sudah pudar.

Odol ditekan. Mata sempat bertemu mata lagi di kaca — dua detik yang sama dengan siang tadi, dengan kemarin — lalu turun ke sikat, ke busa yang mulai putih di sudut bibir. Wajah itu ada di sana sepanjang menggosok gigi. Dua menit, sejengkal jarak. Yang ditatap: busa, kran, titik air kering di kaca yang letaknya bukan di mata.

Pernah, suatu malam, tatapan itu bertahan lebih lama dari biasanya. Empat detik, mungkin lima. Tidak terjadi apa-apa yang bisa diceritakan. Hanya ada yang mengetat pelan di dada, sehalus benang ditarik, dan napas sendiri yang tiba-tiba terdengar di ruangan sekecil itu. Lalu mata turun sendiri, dan gosok gigi berlanjut seperti tidak ada apa-apa, karena memang tidak ada apa-apa.

Di rumah ini ada laci yang dibuka dengan cara tertentu. Ditarik sejari, cukup untuk tangan menyelinap, mengambil gunting atau baterai, lalu didorong tutup lagi. Tidak pernah ditarik sampai habis relnya. Isinya kira-kira diketahui — kabel entah dari apa, kunci entah untuk pintu mana, kertas-kertas yang sudah lewat masanya. Tidak ada yang berbahaya di dalamnya. Laci itu hanya tidak pernah dibuka penuh, bertahun-tahun, dan rumah berjalan biasa saja.

Dibuka sejari. Diambil yang perlu — rambut sudah rapi, tidak ada sisa makanan di gigi, kerah sudah lurus — lalu didorong tutup. Dua detik cukup untuk semua keperluan itu. Lebih dari dua detik tidak diambil.

Yang ganjil tidak pernah datang sebagai pikiran utuh. Ia datang kecil, di tengah berkumur: wajah ini wajah yang paling sering dilihat orang lain, dan paling jarang dilihat sendiri. Orang-orang menatapnya lama — di rapat, di kondangan, di seberang meja makan — sementara pemiliknya menatapnya dua detik sehari, itu pun sambil memegang sikat gigi.

Pikiran kecil itu tidak tinggal. Ia lewat seperti rasa odol — tajam sebentar, lalu hilang ditelan kumur terakhir.

Air dibuang. Kran ditutup. Handuk kecil menyeka mulut, dua tekanan, selesai.

Lampu dimatikan. Di kamar, ponsel menyala dengan urusan-urusan yang besok saja. Kasur menerima berat badan dengan bunyi per yang sudah hafal.

Sebelum layar dikunci, ada satu foto acara kantor yang menandai nama. Wajah sendiri di foto itu diperbesar dengan dua jari, ditatap agak lama — lebih lama daripada di kaca mana pun hari ini — lalu aplikasi ditutup tanpa menyukai apa pun. Layar gelap. Di kaca layar yang gelap itu ada bayangan wajah lagi, samar, dan ponsel diletakkan menelungkup.

Besok ada lagi wastafel kantor dengan lampu putihnya, sabun yang baunya sama di mana-mana. Ada lift dengan angka-angka yang menyala berganti, etalase di jalan yang sama, spion di lampu merah yang sama, dan kursi pangkas yang bulan depan datang gilirannya. Wajah itu ikut ke semua tempat itu — sejarak lengan, sejengkal kaca, paling dekat dari segala yang dibawa.

Dua detik. Mungkin tiga. Lalu sikat gigi, lalu kran, lalu hari yang sudah menunggu di luar pintu.

Chapter 2: Suara yang Berubah Lebih Dulu

Travel berhenti di mulut gang sehabis magrib. Tas diturunkan dari bagasi, dan suara yang mengucapkan terima kasih kepada sopir masih suara perjalanan — datar, sedang, selesai di ujung kalimat. Suara yang sama dipakai tadi siang untuk rapat daring dari rest area, dipakai kemarin untuk menolak jadwal yang terlalu rapat. Suara yang biasa menyelesaikan urusan.

Tadi sore, masih di jalan tol, ibu sempat menelepon. Menanyakan sudah sampai mana, sudah makan atau belum. Dan di kursi travel itu, berjam-jam sebelum rumah kelihatan, suara yang menjawab sudah mulai naik — belum penuh, baru setengah jalan, seperti air yang mulai hangat sebelum mendidih. Telepon ditutup, dan suara turun lagi ke nada perjalanan, dipakai sebentar untuk menanyakan ke sopir lewat mana.

Gang itu hafal di kaki. Lampu warung yang itu juga, tikungan got, pagar-pagar rendah yang catnya berganti pelan dari tahun ke tahun. Jendela rumah menyala kuning di ujung. Langkah tidak dipercepat, tidak diperlambat.

Pagar dibuka. Bunyinya masih bunyi yang dulu — seret sedikit di engsel bawah. Di teras, sandal-sandal bertumpuk dekat keset. Belum sempat mengetuk dua kali, pintu sudah dibuka dari dalam.

"Bu."

Satu suku kata, dan suara itu sudah berubah. Lebih tinggi dari suara di mulut gang tadi. Lebih kecil. Naik setengah nada — tanpa diputuskan, tanpa diminta. Salam masih disusun di kepala; suara sudah keluar lebih dulu dengan nadanya sendiri.

Bahu yang sepanjang perjalanan tegak menahan sandaran kursi turun sedikit di ambang pintu itu. Napas keluar lebih panjang dari biasanya, tanpa suara. Tidak ada yang memberi aba-aba untuk itu juga.

Tangan ibu dicium. Bau rumah datang sekaligus: minyak kayu putih, nasi yang baru diangkat, kayu lemari tua. Bau yang tidak pernah ikut pindah ke mana-mana. Tas turun dari punggung dan diterima begitu saja oleh lantai ruang tamu, seperti barang yang memang ada tempatnya di situ.

Di tenggorokan, pergantian tadi tidak meninggalkan bekas. Tidak ada yang serak, tidak ada yang tersangkut. Hanya telinga sendiri yang sempat menangkapnya — sepersekian detik, seperti mendengar suara itu dari samping, dari kursi sebelah.

Meja makan sudah menunggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama urutannya dari tahun ke tahun. Sudah makan apa belum. Kok kurusan. Kerjaan gimana. Jawaban-jawaban keluar dengan suara yang baru itu: iya Bu, lumayan, begitulah, lancar. Nada itu bertahan sepanjang makan, sepanjang nasi ditambahkan ke piring tanpa ditanya.

Bapak menyusul duduk belakangan, menanyakan jalanan — macet di mana, lepas dari tol jam berapa. Jawaban untuk bapak keluar dengan setelan yang lain lagi: lebih rendah daripada yang untuk ibu, lebih pendek, kalimat-kalimat yang berhenti di angka dan nama daerah. Tetap bukan suara telepon kantor. Satu meja, dua arah, dua nada — dan keduanya keluar bergantian tanpa tersangkut sekali pun.

Yang turun jauh-jauh dari kota rasanya masih di ambang pintu, masih melepas sepatu. Suaranya sudah masuk duluan. Sudah duduk di kursi yang biasa, sudah jadi anak rumah ini lagi, lengkap dengan jeda-jedanya.

Di teras tadi ada sandal jepit yang sudah tipis, yang dulu dipakai ke warung, ke ujung gang, ke mana-mana. Tidak pernah ikut ke kota. Besok pagi, kaki akan masuk ke sandal itu begitu saja — tidak dicari, tidak dipilih — dan ukurannya masih pas. Rumah ini menyimpan barang-barang yang tidak dibawa pergi: sandal itu, gelas bergambar klub bola di rak paling bawah, posisi duduk di sisi kiri meja makan. Suara yang naik setengah nada itu disimpan juga di sini. Menunggu di ambang pintu bersama keset dan sandal, dan terpakai begitu pintu terbuka.

Habis makan, TV menyala di ruang tengah dengan acara yang tidak benar-benar ditonton siapa pun. Ponsel bergetar di saku. Nama rekan kerja. Telepon diangkat sambil berjalan ke teras, dan dalam dua kata pertama suara sudah turun lagi ke nada kota — datar, sedang, kalimat-kalimat yang selesai. Oke, file-nya sudah di folder. Besok pagi dicek lagi.

Dari dapur, ibu memanggil — menanyakan letak oleh-oleh, atau apa, kalimatnya tidak utuh sampai ke teras. Jawaban keluar di sela telepon: iya Bu, sebentar — dan dua kata itu naik lagi, tinggi lagi, kecil lagi, sementara kalimat berikutnya ke telepon turun lagi seperti tidak terjadi apa-apa.

Dua suara dalam satu menit. Satu mulut. Pergantiannya mulus, tanpa sambungan yang terasa, seperti tukang yang berpindah alat tanpa menoleh ke kotak perkakasnya.

Malam, kamar lama. Langit-langit yang sama, dengan bekas bocor yang sudah dicat tapi masih kelihatan kalau tahu letaknya. Di dinding masih ada sisa selotip bekas poster yang sudah lama turun. Kasur menerima berat badan dengan bunyi per yang lain dari kasur di kontrakan — lebih dalam, lebih tua. Suara TV samar dari ruang tengah, lalu mati. Bunyi gerendel pintu depan dikunci. Rumah pelan-pelan jadi hening, dan heningnya hening yang dikenal.

Di kasur, ponsel menyala sebentar. Ada voice note yang tadi sore dikirim ke rekan kerja, sebelum travel masuk gang. Diputar — pelan, dekat ke telinga. Suara di dalamnya suara kota itu: datar, sedang, selesai di ujung kalimat. Didengar dari kamar ini, di antara bau kasur ini, suara itu terdengar seperti suara orang lain yang dikenal baik. Diputar sekali saja. Ponsel diletakkan menelungkup.

Dua-duanya suara sendiri. Yang tinggi di pintu tadi, yang datar di rekaman ini. Dua-duanya keluar dari tenggorokan yang sama, di hari yang sama. Keduanya dibiarkan di tempatnya masing-masing, seperti sandal di teras dan sepatu di rak kontrakan — tidak pernah bertukar tempat, tidak pernah berpapasan.

Tidur datang pelan, di antara bunyi kipas angin yang kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Pagi, belum jam enam, ada suara dari dapur. Memanggil untuk sarapan, atau menyuruh bangun — kata-katanya belum jelas benar di telinga yang masih separuh tidur.

"Iya, Bu."

Suara itu sudah menjawab. Tinggi, kecil, hafal. Lebih dulu dari mata yang membuka, lebih dulu dari ingatan tentang ini hari apa. Badan bangun belakangan, menyusul suaranya sendiri turun ke dapur — melewati ruang tamu yang masih remang, ke arah bau minyak panas dan bunyi piring yang diletakkan pelan.

Di kursi yang biasa, teh sudah dituang. Yang punya suara duduk, masih membawa sisa kantuk perjalanan.

Chapter 3: Lebih Lama di Depan Lemari

Pintu lemari sudah terbuka beberapa menit.

Tidak ada yang dicari. Semua baju di dalamnya sudah dikenal — kemeja biru yang dibeli dua tahun lalu, kemeja putih yang kerahnya mulai lemas, kaus-kaus yang warnanya saling mirip, batik yang hanya keluar untuk acara tertentu. Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang baru.

Tangan menyentuh gantungan dan menggesernya satu-satu ke kiri. Besi bergesek pelan di palang lemari. Sampai ke ujung, geseran itu kembali ke kanan, melewati baju-baju yang sama, dengan bunyi yang sama.

Hari ini ada acara. Bukan acara besar. Hanya bertemu kelompok orang yang itu.

Bukan orang asing — namanya hafal semua. Bukan juga orang dekat. Kelompok yang matanya sudah terasa dari sekarang, padahal jaraknya masih beberapa jam dan beberapa kilometer. Orang-orang yang pertanyaannya biasa saja — kabar, kerjaan, kapan — tapi nadanya selalu sampai lebih dulu daripada kalimatnya.

Lantai dingin di telapak kaki. Handuk masih tersampir di bahu, rambut belum kering betul, dan sesekali tetes air jatuh ke lantai. Di kamar tidak ada suara selain gesekan gantungan dan, dari luar, motor tetangga yang sedang dipanaskan.

Kemeja biru dikeluarkan. Ditempelkan ke dada, dilihat di cermin kecil yang menempel di pintu lemari. Dua detik. Dikembalikan.

Kemeja putih dikeluarkan. Ditempelkan, bahunya dirapikan sedikit. Dikembalikan juga.

Satu kaus berkerah sempat dipakai sungguhan — sudah melewati kepala, sudah masuk kedua lengan, sudah dilihat di cermin. Lalu dilepas lagi dan tergeletak di kasur dengan bagian dalam di luar, lengannya menunjuk ke arah yang tidak jelas.

Bukan kemejanya. Kemeja-kemeja itu pas di badan. Ukurannya tidak berubah dari minggu lalu, waktu salah satunya dipakai ke tempat lain dan dipilih dalam waktu kurang dari satu menit, sambil mengunyah roti.

Celana tidak ikut ditimbang. Celana yang itu-itu juga, yang sudah tahu tugasnya. Yang ditimbang hanya bagian atas — bagian yang kelihatan waktu duduk, waktu salaman, waktu difoto.

Semalam, sebelum tidur, foto profil sempat diganti. Yang lama diturunkan — terasa kaku, entah kaku menurut siapa. Diganti dengan yang lebih santai, dari perjalanan tahun lalu. Sepuluh menit kemudian foto itu terasa seperti sedang berusaha. Diganti lagi dengan yang lebih lama, dari masa yang rasanya lebih ringan. Hampir tengah malam, semuanya kembali ke foto yang pertama.

Setiap foto diperiksa dua kali — sekali sebagai gambar besar, sekali sebagai lingkaran kecil seukuran kuku, seperti yang nanti tampil di layar orang.

Tiga kali ganti, berakhir di tempat semula. Layar dimatikan. Kamar gelap. Yang tersisa hanya bekas terang di mata, sebentar, sebelum ikut padam.

Tidak ada yang menonton pergantian itu. Mungkin satu dua orang kebetulan membuka layar pada menit yang tepat dan melihat wajah yang berganti-ganti. Mungkin tidak ada sama sekali.

Sekarang, di depan lemari, jari berhenti sebentar di batik.

Batik itu menggantung di antara baju harian, lengannya bersentuhan dengan kaus tidur. Ia hanya keluar beberapa kali setahun, dan setiap keluar, ia tahu mau dibawa ke mana. Baju yang paling jarang dipakai justru yang paling jelas urusannya. Hari ini bukan urusannya. Jari lewat.

Yang lain-lain, yang dipakai hampir setiap hari, pagi ini tidak ada yang terasa cukup. Padahal kemarin cukup. Padahal besok, untuk hari yang lain, akan cukup lagi.

Berat badan pindah dari kaki kiri ke kaki kanan. Sudah dua kali. Mungkin tiga.

Motor tetangga sudah berangkat. Kamar tinggal punya satu suara: gesekan gantungan, maju, mundur. Air di ujung rambut sudah berhenti menetes.

Yang dipanggil hari ini bukan yang paling nyaman di badan. Yang dipanggil hari ini yang paling aman dilihat.

Gantungan-gantungan itu menghadap ke arah yang sama. Baju-baju digantung dengan punggung ke dinding dan dada ke arah pintu, berbaris seperti menunggu dipanggil.

Ponsel di atas kasur menyala sebentar. Grup acara. Seseorang mengirim titik lokasi, seseorang lain menulis sudah berangkat. Jam di dinding lewat dari rencana. Perut mengetat sedikit — bukan lapar.

Tangan akhirnya kembali ke kemeja yang pertama. Yang biru, yang tadi hanya dapat dua detik. Diambil lagi. Kali ini dipakai.

Kancing dipasang dari bawah ke atas. Di kancing kedua dari atas, jari berhenti. Ditutup, dilihat, dibuka lagi. Lengan digulung sampai siku, diturunkan, digulung lagi. Badan diputar sedikit ke kiri di depan cermin pintu lemari, lalu ke kanan.

Yang dilihat bukan wajah. Kerah, bahu, jatuhnya kain di perut. Wajah hanya lewat di bagian atas cermin, tidak ditahan lama-lama.

Pintu lemari ditutup. Di dalamnya, baju-baju yang tidak terpilih tetap menghadap ke arah yang sama — rapat, gelap, menunggu hari yang lain. Kaus yang tadi sempat dipakai masih di kasur, bagian dalamnya di luar.

Di jalan, kemeja itu tidak terasa di badan. Angin masuk dari kerah yang tadi lama ditimbang terbuka atau tertutup, dan urusan kerah itu selesai dengan sendirinya, tanpa diputuskan siapa-siapa.

Di tempat acara, tidak ada yang menyebut kemeja itu. Tidak ada yang memperhatikan gulungan lengannya. Orang-orang menyapa, tangan bersalaman, nama dipanggil, kursi digeser. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terasa sejak pagi datang juga, dengan nada yang sudah dikenal, dan dijawab dengan jawaban yang entah disiapkan sejak kapan.

Sekali, di tengah obrolan, mata lewat ke kaca jendela ruangan dan menangkap potongan badan sendiri — kemeja biru di antara punggung-punggung orang. Sebentar saja. Obrolan jalan terus.

Acara berjalan seperti acara. Ada tawa, ada foto bersama. Di foto itu, kemeja biru berdiri di barisan, tidak lebih terang dan tidak lebih redup dari baju-baju lain.

Pulangnya, di kamar, kemeja dilepas dan disampirkan di sandaran kursi. Besok ia masuk keranjang cucian. Lusa atau kapan, ia kembali ke lemari, digantung di tempat yang sama, di antara baju-baju yang pagi tadi ikut ditimbang dan tidak terpilih — yang tidak tahu apa-apa soal pagi tadi.

Kaus tidur dipakai tanpa dilihat. Lehernya longgar, warnanya pudar, dan tidak ada yang perlu ditimbang dari situ.

Foto profil masih foto yang pertama. Belum diganti lagi. Mungkin nanti. Mungkin tidak.

Lampu kamar dimatikan. Di dalam lemari yang tertutup, gantungan-gantungan diam menghadap pintu. Besok, untuk hari yang biasa, pintu itu dibuka dan ditutup dalam waktu kurang dari satu menit.

Chapter 4: Iya yang Sampai Duluan

Ruang rapat lantai tujuh, Selasa, jam sepuluh lewat sedikit. AC terlalu dingin di sisi yang dekat jendela. Di layar proyektor, jadwal proyek terbentang dalam balok-balok warna, dan titik laser berhenti di balok yang paling kanan.

Rapat sudah berjalan setengah jam. Gelas-gelas air mineral setengah kosong, sebuah ponsel tertelungkup di dekat notulen, seseorang menahan kuap di kursi ujung.

Lalu pertanyaannya datang. Pendek saja. Apakah ini bisa maju dua minggu, supaya sejalan dengan agenda yang lebih besar. Beberapa kepala menoleh ke satu kursi.

Rahang mengeras sepersekian detik. Sependek itu — tidak sempat jadi apa-apa.

Lalu mulut berkata, "Bisa, Pak."

Dua kata, nadanya pas, dilengkapi anggukan kecil. Pulpen seseorang bergerak di atas kertas. Layar berpindah slide. Rapat sudah ada di topik berikutnya.

Di dada, ada yang baru sampai di tengah pertanyaan tadi. Bagian yang masih menghitung: minggu ini sudah penuh, minggu depan ada yang belum selesai, dua minggu itu diambil dari mana. Hitungan itu belum rampung. Jawabannya sudah berangkat lebih dulu — sudah diterima, sudah dicatat, sudah jadi milik ruangan.

Bunyinya wajar, suaranya suara sendiri, tidak ada yang janggal di telinga orang lain. Yang aneh jaraknya — antara mulut yang sudah selesai dan dada yang masih di tengah jalan.

Sisa rapat berjalan lancar. Tangan ikut mencatat, kepala mengangguk di tempat-tempat yang tepat. Sesekali, di bawah meja, kaki bertukar posisi.

Yang menyetujui memang selalu siap. Ia datang dengan kalimat lengkap — bisa, Pak; siap, nanti diatur; tidak masalah — kalimat-kalimat yang rapi, yang hafal jalannya keluar, yang tahu kapan perlu ditambah anggukan dan kapan cukup senyum tipis.

Yang menolak tidak punya kalimat.

Ia tidak pernah punya. Ia hanya rahang yang mengeras, napas yang tertahan setengah detik, berat kecil yang turun di dada. Kalau ditunggu, ia tidak juga bicara. Ia cuma bisa diam lebih lama — dan rapat tidak menyediakan diam selama itu.

Pernah, sekali, jeda itu dicoba dipanjangkan. Dua detik. Tiga. Kursi-kursi mulai berbunyi pelan, seseorang melirik jam di dinding, dan keheningan itu terasa seperti barang yang jatuh di lantai dan semua orang menunggu siapa yang memungut. "Bisa" keluar juga. Hanya lebih pelan.

Sorenya notulen masuk ke email. Poin ketiga: timeline dimajukan dua minggu, dikonfirmasi sanggup. Kalimat dari mulut tadi pagi sekarang punya nomor poin dan tembusan ke banyak nama.

Di pantry, rekan satu tim bertanya pelan, beneran sanggup. Jawabannya keluar lagi, versi yang lebih santai: aman, bisa diatur.

Malam, di kasur, ponsel menyala.

Grup keluarga. Tante datang Sabtu, keretanya sampai jam sebelas, dan ada yang bertanya siapa yang bisa jemput ke stasiun. Lalu nama sendiri disebut — searah, kan, rumahnya.

Jempol sudah mengetik. Bisa, nanti aku yang jemput. Tombol kirim ditekan — lebih cepat daripada bagian yang masih menimbang, yang baru sampai di kata Sabtu, yang masih mengingat-ingat Sabtu itu tadinya berisi apa. Centang satu, centang dua. Balasan masuk: ucapan terima kasih, gambar jempol.

Sempat, sebelum jempol bergerak, ada niat menulis kalimat lain. Sabtu ini agak — lalu berhenti di situ. Kata berikutnya tidak datang. Di kolom ketik yang bisa dihapus berkali-kali pun, yang menolak tetap tidak membawa kalimat. Yang terkirim yang sudah jadi.

Di layar, kalimat itu duduk di antara kalimat-kalimat lain. Hijau, di sisi kanan, jam kirim tercetak kecil di pojoknya. Sudah jadi bagian dari percakapan. Dibaca sekali lagi, ia terdengar seperti dikirim orang lain — orang yang ringan, yang Sabtunya kosong, yang memang sedang menunggu diminta.

Ponsel diletakkan. Layar mati sendiri.

Kamar gelap. Garis tipis cahaya jalan masuk dari sela gorden dan berhenti di plafon. Kalimat tadi pagi sempat terdengar lagi — bisa, Pak — bukan diingat, lebih seperti diputar. Dari dalam, suara itu terdengar sedikit asing, seperti suara sendiri di rekaman. Dan ia sudah jauh sekarang. Sudah di notulen, sudah di jadwal orang-orang. Tidak bisa ditarik pulang.

Bagian yang menimbang baru selesai sekarang. Hitungannya datang lengkap — pekerjaan yang barusan maju dua minggu, Sabtu yang tadinya satu-satunya hari kosong, jam berangkat, jalur yang macet di akhir pekan.

Di rumah ini ada saklar lampu dapur yang letaknya tersembunyi, di balik rak. Tamu selalu meraba-raba dinding mencarinya. Tangan sendiri tidak pernah mencari — dalam gelap, jari sampai ke saklar itu lebih dulu daripada niat menyalakan lampu. Tidak ada yang pernah memutuskan jalur itu. Tidak ada yang ingat kapan mulai hafal. Tahu-tahu tangan sudah sampai.

Tidak ada yang perlu dimarahi dari kalimat-kalimat itu. Mereka sopan, enak didengar, membuat rapat tetap pendek dan grup keluarga tetap hangat. Orang-orang yang menerimanya pulang dengan urusan selesai. Hanya di sisi yang mengucapkan ada yang setiap kali tertinggal — kecil, tidak berbentuk, tidak tahu mau ditaruh di mana.

Berat itu tidak besar. Cukup kecil untuk dibawa tidur. Cukup kecil untuk dibawa kerja besoknya. Ia tidak pernah cukup berat untuk dijatuhkan.

Ia ikut ke mana-mana tanpa minta tempat. Di perjalanan pagi, di sela mencuci piring, di lampu merah yang lama. Tidak mengganggu. Hanya ada — seperti uang logam di saku celana, yang baru terasa waktu duduk.

Sabtu datang. Stasiun ramai, kereta terlambat sepuluh menit, tante muncul dengan dua tas dan cerita yang dimulai sebelum salam selesai. Di mobil, tante bertanya kabar pekerjaan. Jawaban yang keluar versi yang rapi — lancar, banyak yang dikerjakan, sehat. Tante senang. Jalan pulang macet di dua titik.

Sorenya, di grup, ada foto tante di ruang tamu dan ucapan terima kasih yang panjang, dengan nama sendiri disebut baik-baik.

Dibaca. Diberi jempol.

Sabtu itu habis dengan wajar — tidak ada yang rusak, tidak ada yang istimewa. Hanya bukan Sabtu yang sempat dibayangkan waktu menatap kalender minggu lalu. Sabtu yang dibayangkan itu tidak pernah diumumkan ke siapa-siapa, jadi tidak ada yang tahu ia batal.

Senin, rapat lagi. Ruangan yang sama, dingin yang sama, balok-balok warna yang kini bergeser dua minggu ke kiri. Ada pertanyaan baru, kali ini soal tim sebelah yang kekurangan orang, dan beberapa kepala mulai menoleh.

Rahang mengeras sepersekian detik.

Tidak ada yang melihatnya. Yang terlihat hanya wajah yang tenang dan mulut yang sudah membuka — dengan kalimat yang rapi, yang hafal jalannya, yang sampai duluan.

Rapat berjalan terus. Di luar jendela, hari bergerak seperti biasa.

Chapter 5: Kursi yang Sama Setiap Tahun

Suara rumah itu sudah sampai ke jalan sebelum pagarnya kelihatan. Tawa yang bertumpuk-tumpuk, piring beradu, anak kecil berlarian di halaman. Sandal menggunung di teras, hampir tidak ada yang berpasangan.

Kursi plastik berderet di halaman, sebagian dipinjam dari tetangga, masih ada tanda cat di sandarannya. Sisanya bertumpuk di pojok, menunggu dibuka satu-satu.

Salim berkeliling. Tangan-tangan tua yang kering dan hangat. Minyak wangi yang sama dengan tahun lalu. Bau dapur yang sama. Asap tipis dari panggangan di belakang.

Lalu kalimat itu datang, lebih cepat dari piring pertama.

"Nah, ini dia. Yang paling pintar."

Diucapkan sambil tertawa, sambil menepuk bahu, sambil setengah bangkit dari kursi. Beberapa kepala menoleh. Dari ujung deretan, ada yang menambahkan: "Yang sudah sukses di Jakarta."

Mulut menjawab. Kalimatnya sama dengan tahun lalu. "Ah, biasa saja, Om." Jedanya pun sama — turun sedikit di tengah, naik sedikit di ujung, seperti lagu yang hafal di luar kepala. Tidak ada yang memutuskan untuk menjawab begitu. Jawaban itu berangkat duluan, sebelum sempat ditimbang.

Senyum dikerjakan oleh pipi. Hanya pipi. Bagian wajah yang lain tidak ikut.

Suara sendiri terdengar naik setengah nada. Lebih ringan dari suara yang dipakai sehari-hari, lebih kecil. Tidak ada yang memintanya naik. Ia naik sendiri, seperti tangan yang refleks menadah waktu diberi sesuatu.

Kursi yang diduduki, kursi yang itu juga. Bukan kursi yang persis sama — kursi plastik tidak punya nama — tapi posisinya yang sama. Agak di pinggir, dekat pintu dapur, menghadap ruang tengah. Tidak ada yang menyuruh duduk di situ. Kaki sendiri yang membawa, seperti kaki yang hafal jalan pulang.

Piring di pangkuan. Lutut merangkap meja. Sendok bergerak pelan, lebih pelan dari lapar.

Masakan bude dipuji sambil menambah sedikit nasi, padahal lidah sudah berhenti dari tadi. Pujian itu tidak bohong. Hanya keluar pada waktu yang bukan waktunya lidah.

Gelas sirup oranye dibagikan. Manisnya juga sama dengan tahun lalu.

Kursi plastik itu melentur sedikit setiap kali badan bergeser. Tidak nyaman, tidak juga mengganggu. Badan sudah tahu cara duduk di atasnya — sudah hafal di mana ia melentur, kapan ia berderit, seberapa jauh boleh bersandar.

Dari kursi di pinggir itu, semuanya kelihatan. Om-om membicarakan harga tanah. Tante-tante membandingkan sekolah anak. Sepupu yang dulu digendong sekarang datang membawa pasangan, dan pertanyaan-pertanyaan untuknya sudah pindah ke pertanyaan yang lain. Semua orang di tempatnya.

Sepanjang sore, pertanyaan yang sama datang dari pintu yang berbeda.

Jakarta disebut berkali-kali, dari mulut yang berganti-ganti: macetnya, banjirnya, harga kontrakannya. Ditanya betah atau tidak. Dijawab betah. Jeda sebelum jawaban itu sependek tahun lalu.

Lalu ada panggilan untuk mendekat ke meja panjang, tempat orang-orang tua duduk. Gelas digeser, kursi dirapatkan. Pertanyaannya sudah menunggu di situ, rapi, seperti kursi-kursi yang tadi: kapan menikah. Kapan punya rumah. Kerjanya masih di tempat yang itu.

Kepala mengangguk. Mengangguk lagi. Mulut berkata sebentar lagi, doakan saja, sedang diusahakan. Kalimat-kalimat itu juga kalimat tahun lalu, dipakai lagi, masih muat.

Di bawah meja, jari memilin ujung baju. Pelan, berulang, tanpa diputuskan. Kain batik di bagian itu sudah lemas, dipilin di meja yang sama, tahun demi tahun.

Napas tertahan sebentar setiap kali pertanyaan baru dibuka. Lalu keluar pelan lewat hidung, sambil kepala mengangguk lagi.

Ada sepupu kecil yang disuruh mendekat. "Salim dulu sama kakakmu. Biar ketularan pintarnya." Anak itu salim, lalu lari lagi. Tangan yang barusan dicium tinggal sebentar di udara.

Di pangkuan, piring sudah lama kosong. Es di gelas sudah jadi air. Acara masih panjang.

Ada jeda di mana tidak ada yang bertanya. Layar ponsel dinyalakan, digeser-geser tanpa membaca apa-apa, lalu dimatikan lagi. Dari dapur, suara piring dicuci dan tawa yang lebih kecil.

Di tempat lain, nama dipanggil begitu saja, polos, tanpa keterangan. Di sini nama selalu datang dengan embel-embel. Yang paling pintar. Yang di Jakarta. Yang dulu juara kelas. Di ruangan yang paling sering menyebut nama itu, ada rasa asing yang ikut duduk.

Rasa asing itu tidak besar. Ia tidak mengganggu jalannya acara. Ia hanya ada.

Kursi plastik itu, selesai acara, akan ditumpuk lagi di pojok. Bentuknya tidak berubah dari tahun ke tahun. Ia tidak menyesuaikan diri dengan siapa pun; punggung siapa pun yang bersandar akan menemukan lekuk yang itu-itu juga.

Sore turun pelan. Anak-anak mulai rewel di pangkuan ibunya. Om yang paling tua pamit duluan, jalannya dipapah ke mobil. Sisa makanan dibagi-bagi, dibungkus, dipaksakan masuk ke tas tamu. "Tahun depan datang lagi, ya. Bawa calon."

Tawa keluar untuk kalimat itu. Tawa yang dikerjakan pipi. Sesudahnya pipi terasa pegal, seperti habis dipakai mengangkat sesuatu.

Sebelum bubar, ada yang mengajak foto bersama. Semua disusun di depan pintu, berdiri di urutan yang tidak pernah dibicarakan tapi selalu sama. Yang tua duduk di tengah, anak-anak jongkok di depan, yang dari Jakarta berdiri di belakang, sebelah kanan. Hitungan ketiga, semua tersenyum. Foto itu malam ini juga akan sampai di grup keluarga.

Pamit berkeliling. Tangan-tangan tua itu lagi. Doa-doa pendek yang diucapkan dekat telinga.

Di perjalanan pulang, ada kesal yang kecil dan tidak punya alamat. Bukan kepada om yang bertanya. Bukan kepada tante yang menyebut. Bukan kepada siapa-siapa. Tidak ada satu kejadian pun yang bisa ditunjuk. Semuanya berjalan lancar.

Jendela dibuka sedikit. Angin malam masuk, membawa bau jalan. Lampu-lampu kampung lewat satu-satu, makin jarang, lalu habis di jalan besar. Kesal kecil itu tidak pergi, tidak juga membesar. Ia ikut sampai rumah, seperti bau asap panggangan yang menempel di kain batik.

Di rumah, baju batik dilepas, digantung lagi di lemari, kembali ke tempatnya di antara baju-baju harian. Ia hanya keluar untuk acara-acara begini.

Tahun depan kursi-kursi itu dibuka lagi dari tumpukan. Dan kaki, mungkin, akan membawa lagi ke posisi yang sama — agak di pinggir, dekat pintu dapur, menghadap ruang tengah.

Malam ini sisa acara masih tinggal di badan. Kenyang yang sedikit berlebihan. Pegal tipis di pipi. Ujung baju yang sudah telanjur lemas dipilin.

Air putih diminum di dapur yang hening. Lampu dimatikan satu per satu.

Chapter 6: Pujian yang Salah Alamat

Rapat Senin pagi baru setengah jalan ketika nama itu disebut.

Ruang rapat lantai tujuh. Dinding kaca, AC yang terlalu dingin di sisi kiri meja, proyektor menampilkan ringkasan minggu lalu. Atasan berhenti di satu baris, mengetuk meja pelan dengan ujung pulpen.

"Nah, ini," katanya. "Ini contoh yang bagus. Selesai tiga hari lebih cepat dari jadwal. Klien sampai kirim email khusus. Yang lain tolong lihat cara kerjanya."

Kepala-kepala menoleh. Di layar, nama proyek itu ditebalkan; ada angka-angka di sebelahnya, semuanya hijau. Ada yang mengangguk, ada yang mengacungkan jempol dari seberang meja. Yang duduk di sebelah menepuk lengan dua kali, pelan.

Mulut berkata terima kasih. Suaranya keluar rapi — tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan — dengan senyum yang dikerjakan oleh pipi.

Hangat tipis menjalar di leher, naik sedikit ke belakang telinga. Bukan hangat yang enak. Hangat seperti label baju yang kasar di kerah: terasa terus di tempat yang sama, dan tidak bisa dibetulkan di depan orang banyak.

Rapat pindah ke slide berikutnya. Pembicaraan beralih ke proyek lain, ke angka-angka lain. Hangat itu tinggal lebih lama daripada pembicaraannya. Pulpen di tangan menggambar kotak-kotak kecil di pinggir buku catatan, kotak yang ditebalkan berulang-ulang sampai kertasnya hampir sobek.

Proyek itu memang selesai tiga hari lebih cepat. Angkanya tidak dilebih-lebihkan. Email dari klien itu juga ada; sudah dibaca dua kali.

Yang tidak masuk slide adalah minggu terakhirnya. Jadwal yang tiba-tiba dimajukan. Tahap pemeriksaan yang biasanya dijalani dua kali, kali itu dijalani sekali — lewat tengah malam, dengan mata yang bergerak lebih cepat daripada membaca. Email ke vendor yang ditulis dengan kalimat yang lebih keras dari kalimat yang biasa dipakai, dikirim pukul sebelas malam, dibaca ulang justru sesudah terkirim. Dan satu bagian yang sebenarnya ingin digarap pelan-pelan, dipangkas, diganti dengan yang lebih cepat jadi.

Vendor membalas esok paginya, pendek dan patuh. Balasan itu dibaca dengan sesuatu yang tidak enak di dada, lalu ditutup, karena hari itu masih panjang.

Bagian yang dipangkas itu masih ada di komputer. Satu folder, satu file dengan nama yang diberi akhiran "lama". Tidak dihapus. Tidak pernah dibuka lagi. Ia ikut terbawa setiap kali laptop dinyalakan, diam di tempatnya, seperti barang di gudang yang tidak dicari siapa-siapa.

Tidak ada yang memaksa dengan kalimat. Hanya tanggal di kalender yang bergeser maju, dan tangan yang mengetik lebih cepat daripada bagian yang masih menimbang.

Pekerjaan itu selesai. Caranya ikut tertanam di dalam pekerjaan yang selesai itu, rapi, tidak kelihatan dari luar.

Di grup divisi, seseorang menulis selamat dengan dua tanda seru. Yang lain menyusul dengan stiker jempol, lalu stiker tepuk tangan. Ada yang mengirim pesan pribadi: dipuji langsung di depan semua orang, keren. Setiap notifikasi, hangat tipis itu kembali ke leher. Tempatnya sama.

Setiap kali, jempol membalas. Terima kasih. Makasih, ya. Ah, ini kerja tim juga kok.

Kalimat-kalimat balasan itu keluar lancar, hampir tanpa berpikir. Yang mengetiknya tangan. Ada bagian lain yang tidak ikut mengetik dan tidak ikut menerima. Bagian itu hanya menonton, dari jarak yang tidak bisa diukur, seperti orang yang berdiri sedikit di belakang bahu sendiri.

Jam makan siang, di lift yang turun, anak baru di tim bertanya sungguh-sungguh — bagaimana caranya membagi waktu supaya bisa secepat itu. Pertanyaannya polos. Matanya menunggu.

Jawaban yang keluar tersusun rapi — soal mengurutkan pekerjaan dari yang besar, soal tidak berlama-lama di satu titik. Anak itu mengangguk-angguk, seperti sedang mencatat di dalam kepala.

Jawaban itu tidak bohong. Hanya bukan itu yang minggu lalu terjadi.

Sore, atasan lewat di samping meja. Berhenti sebentar, satu tangan di sandaran kursi.

"Minggu depan ceritakan ya, caranya, di forum tim. Biar bisa jadi standar."

Perut mengetat sebentar. Mulut berkata siap. Atasan berlalu, menyapa meja yang lain, suaranya menjauh.

Kursor berkedip di dokumen yang terbuka. Yang diminta untuk diceritakan minggu depan adalah cara itu — tahap yang dilewati, email tengah malam, bagian yang dipangkas — disusun menjadi butir-butir presentasi, diberi judul yang bagus.

Layar dipandang agak lama. Lalu jari kembali mengetik. Pekerjaan hari ini sendiri belum selesai.

Sore habis pelan-pelan. Lampu lantai tujuh mati sebagian, menyisakan beberapa deret meja yang masih menyala. Di sudut meja ada plakat penghargaan tahun lalu; debunya kemarin dilap, tulisannya sudah lama tidak dibaca.

Sebelum pulang, email pujian dari klien itu dibuka sekali lagi. Dibaca dari atas sampai bawah, pelan. Kalimat-kalimatnya hangat dan tidak tahu apa-apa. Lalu email itu dibintangi. Entah untuk apa.

Di lobi, satpam yang biasa berjaga mengangguk seperti biasa. Di lift turun, seseorang dari divisi sebelah menyebut soal pagi tadi — katanya terdengar sampai ke ruangan mereka. Terima kasih diucapkan sekali lagi. Kata itu sudah keluar berkali-kali hari ini; di pengucapan yang kesekian, ia terasa seperti uang logam yang licin karena terlalu sering berpindah tangan.

Di kereta, ID card dilepas dari leher, talinya digulung, dimasukkan ke tas. Bekas talinya masih terasa sebentar di tengkuk, dekat tempat hangat tipis tadi menjalar. Dua-duanya hilang pelan-pelan, tidak persis bersamaan.

Ponsel bergetar sekali lagi. Grup divisi. Foto slide pagi tadi, dipotret seseorang dari kursinya — nama yang disebut itu terbaca jelas di layar, sedikit miring, kena pantulan lampu ruang rapat. Di bawahnya tertulis: contoh nih. Jempol diberikan, dari kereta yang bergoyang pelan.

Di rumah, makan malam menghadap televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton. Piring dicuci. Air menetes dari rak pengering, satu-satu.

Malam itu cerita tentang hari ini diceritakan sekilas di telepon, kepada orang rumah yang menanyakan kabar. Dipuji bos di depan semua orang — begitu versinya, satu kalimat, disertai tawa kecil. Dari seberang, suara yang ikut senang. Versi itu tidak keliru. Hanya pendek. Bagian yang lain tidak ikut diceritakan, bukan karena disembunyikan; ia memang tidak punya kalimat.

Besok ada rapat jam sembilan. Proyek baru, jadwalnya lebih pendek dari yang kemarin. Undangannya sudah masuk kalender, warnanya sama dengan undangan-undangan yang lain.

Pujian tadi ikut sampai ke rumah. Ia tidak berat. Ia hanya disimpan di tempat yang tidak nyaman.

Laptop ditutup. Lampu dimatikan. Besok berangkat lagi pukul tujuh.

Chapter 7: Tawa yang Keluar Duluan

Warung di pertigaan itu tidak ke mana-mana. Terpalnya masih biru, ditambal di dua tempat. Kursi plastiknya masih merah, masih sedikit miring kalau diduduki terlalu santai. Jumat malam, dan orang-orang yang sama datang ke posisi yang hampir sama: yang paling ramai di tengah, yang paling diam dekat tiang, yang datang terakhir kebagian kursi yang paling goyah.

Kopi datang tanpa ditanya. Pesanan meja ini sudah hafal di kepala yang punya warung. Gorengan menyusul di piring yang sama dengan minggu-minggu sebelumnya, masih panas, ditaruh di tengah tanpa kata.

Hujan sore tadi sudah berhenti. Jalanan masih basah, dan tiap motor yang lewat meninggalkan suara air sebentar, lalu hening lagi.

Obrolan jalan seperti biasanya jalan. Cicilan. Atasan. Harga rokok. Anak tetangga yang masuk berita. Tidak ada yang baru.

Lalu seseorang menyebut nama lama. Kawan yang dulu satu meja juga, yang sekarang jarang datang. Yang masih bertahan dengan usaha kecilnya, masih menolak kerja kantoran, masih memegang yang itu — yang dulu sering ia sebut dengan mata menyala.

"Masih dipegang prinsipnya?" kata yang di tengah. "Laku berapa sekarang?"

Meja tertawa.

Tawa sendiri ikut di dalamnya. Bukan tawa sopan, bukan tawa yang dikerjakan pipi saja — tawa penuh, dengan kepala yang sedikit mendongak, dengan napas yang ikut keluar.

Tawa itu keluar duluan. Langsung dari tenggorokan, lepas ke udara malam, bercampur dengan tawa yang lain sampai tidak bisa lagi dipilah yang mana suara sendiri.

Dua tahun lalu, lelucon itu akan dibantah. Bukan dengan marah — dengan panjang. Dengan suara yang naik sedikit, dengan tangan yang ikut bicara, dengan "tunggu dulu, tunggu dulu" yang dipakai untuk merebut giliran. Dua tahun lalu, yang ditertawakan malam ini adalah yang dibela habis-habisan di meja yang sama, sampai kopi dingin dan tidak dipesan lagi.

Malam ini tidak ada yang membantah. Kursi yang dulu sering ia duduki sedang dipakai orang lain, yang juga ikut tertawa, yang tidak tahu apa-apa soal dua tahun lalu. Lelucon lewat, obrolan pindah, dan nama lama itu tinggal di belakang bersama asap gorengan.

Malam ini tawa keluar duluan, dan badan terasa pas di dalamnya. Bahu turun. Punggung menyandar ke kursi yang miring. Tangan menepuk meja sekali, pelan, ikut irama tawa yang lain.

Setelah tawa reda, mulut masih menyisakan senyum sebentar. Senyum sisa. Menunggu obrolan berikutnya datang, seperti mesin yang dibiarkan menyala di lampu merah.

Obrolan berikutnya datang. Soal kerja, soal pilihan, soal anak-anak yang mulai besar. Seseorang bilang anaknya nanti mau diarahkan ke yang aman saja. Pegawai, kalau bisa. Yang jelas gajinya, yang jelas pensiunnya.

Dan kalimat itu keluar. Suara sendiri, nada yang yakin: "Betul itu. Aman dulu. Mimpi bisa nyusul — dapur duluan."

Di tengah kalimat itu, ada yang menoleh dari dalam. Pelan saja, seperti orang yang merasa namanya disebut di meja sebelah. Kalimat yang persis seperti ini dulu pernah ditertawakan.

Di meja ini juga, atau meja lain yang sama bentuknya. Dulu kalimat ini milik orang yang lebih tua, dan ditanggapi dengan tawa yang panjang dan keras.

Kalimat tetap diselesaikan. Suaranya tidak goyah, tidak melambat, tidak memberi tanda apa-apa ke meja. Malah diberi penutup yang rapi: "Realistis aja kita." Diberi anggukan dari seberang meja. Diberi tegukan kopi sesudahnya.

Kopi yang diteguk itu sudah tidak panas. Tetap diteguk.

Tidak ada yang janggal di jalannya malam. Tidak ada yang menoleh dari luar. Yang menoleh tadi hanya yang di dalam — dan yang di dalam itu tidak membawa kata-kata. Ia menoleh sebentar, lalu kembali duduk di tempatnya yang tidak kelihatan.

Kopi tinggal ampas. Gorengan tinggal dua, sudah dingin, tidak ada yang mengambil dan tidak ada yang menyuruh angkat. Obrolan jalan satu putaran lagi, lebih pelan. Tawa masih keluar beberapa kali — lebih pendek, lebih rendah, tawa jam sebelas. Pipi mulai terasa seperti habis dipakai.

Lalu bubar, seperti biasanya bubar: satu orang melihat jam, dan seluruh meja sepakat tanpa ada yang memutuskan. Uang dikumpulkan, dilebihkan sedikit, "udah, itungannya gampang". Salaman setengah pelukan. Tepukan di bahu. "Bulan depan lagi."

Gelas-gelas tinggal di meja. Yang berdiri paling akhir sempat melihatnya sekilas: gelas kosong, ampas hitam mengendap di dasar, dan lingkaran-lingkaran air bekas dasar gelas di permukaan meja.

Gelas-gelas itu nanti diangkat yang punya warung. Lingkarannya tinggal dulu di situ — basah, tidak berbentuk apa-apa selain bekas. Sebagian mengering sendiri. Sebagian dilap.

Ada yang tertinggal di meja itu. Bukan barang. Dompet di kantong, kunci sudah di tangan, ponsel dicek dua kali. Semua kebawa.

Helm dipakai sambil masih melempar satu-dua kalimat terakhir. Mesin-mesin motor menyala hampir bersamaan, lalu pergi ke arah yang berbeda-beda. Di belakang, suara warung kembali ke suara warung: kursi digeser, gelas dikumpulkan, radio kecil di pojok.

Jalan pulang lewat rute yang sama. Motor hafal belokannya sendiri; tangan tinggal ikut.

Di lampu merah, sepotong wajah lewat di spion — kena cahaya etalase yang masih menyala, sebentar saja. Wajah orang yang barusan banyak tertawa. Masih ada sisa senyum di situ. Atau itu hanya bentuk mulut yang belum selesai kembali.

Lampu hijau. Wajah di spion berganti jalan kosong.

Kesal kecil ikut membonceng sepanjang jalan itu. Kecil saja, tidak sampai mengubah cara menarik gas. Tidak jelas ditujukan pada siapa. Kalau malam tadi diputar ulang dan dicari satu kejadian yang bisa ditunjuk — tidak ketemu. Leluconnya biasa. Obrolannya hangat. Semuanya berjalan lancar.

Kesalnya ikut sampai belokan terakhir, lalu tidak terasa lagi. Mungkin turun di jalan. Mungkin ikut masuk.

Pagar dikunci. Helm digantung di tempatnya. Rumah sudah gelap; semua orang sudah tidur, dan langkah menyesuaikan diri dengan itu tanpa diminta.

Air putih satu gelas di dapur yang tidak dinyalakan lampunya. Diminum berdiri, pelan, menghadap jendela kecil di atas bak cuci. Tenggorokan yang tadi banyak tertawa menerima air itu seperti menerima sesuatu yang terlambat.

Ponsel bergetar sekali: foto tadi sudah masuk grup. Sembilan wajah di bawah terpal biru, semuanya tertawa, satu di antaranya wajah sendiri. Tawanya kelihatan lepas.

Foto dilihat agak lama. Tidak dibalas apa-apa.

Lampu kamar dimatikan. Besok hari biasa.

Chapter 8: Hari yang Sama, Dua Catatan

Malam di meja makan. Lauknya sama dengan kemarin, ditambah satu yang baru digoreng. Televisi menyala di ruang sebelah tanpa ada yang menonton. Kursinya kursi yang itu juga — yang sandarannya sedikit goyang, yang sudah bertahun-tahun jadi tempat duduk yang sama.

Nasi masih mengepul tipis waktu ibu bertanya tentang kantor. Pertanyaan yang sama setiap beberapa hari, dilemparkan ringan di antara bunyi sendok dan piring, tanpa menunggu jawaban panjang.

Dan cerita itu keluar.

Proyek yang hampir selesai. Atasan yang mulai sering menyebut nama. Rapat tadi siang — yang diceritakan bagian yang lancar: presentasi berjalan, beberapa orang mengangguk, ada yang mencatat. Bagian yang lain tidak ikut keluar. Bagian ketika koreksi datang di depan semua orang dan jawaban yang disiapkan semalaman tidak jadi terpakai. Bagian itu tetap di dalam tas, seperti bekal yang tidak sempat dimakan.

Tidak ada yang ditambah; hanya ada yang tidak diajak. Yang lain dirapikan — seperti merapikan tempat tidur sebelum tamu datang. Barangnya sama semua. Letaknya saja yang diatur.

Suara sendiri terdengar fasih saat bercerita. Tahu di mana melambat, tahu di mana berhenti supaya ayah sempat berkomentar. Cerita ini sudah beberapa kali keluar — di telepon, di warung dekat rumah, di obrolan singkat dengan tetangga — dan setiap kali keluar, permukaannya makin halus. Seperti batu yang sering dipegang.

Ayah mengangguk pelan sambil menambah sambal. Ibu menyebut anak tetangga yang katanya baru pindah kerja, gajinya katanya sekian. Cerita tadi diterima di meja itu dengan baik. Ia pas di sana.

"Kalau begitu sebentar lagi naik, ya," kata ayah, tidak benar-benar bertanya. Jawabannya keluar cepat — "doakan saja" — dengan nada yang pas, nada yang sudah tahu bentuknya sendiri. Sesudah itu obrolan pindah ke harga cabai, ke pagar tetangga yang sedang dicat, dan cerita kantor selesai dengan rapi, tanpa sisa di atas meja.

Tangan menambah nasi. Mulut tertawa kecil di tempat yang tepat — tawa yang dikerjakan secukupnya, tidak kurang, tidak lebih. Sementara di dada ada yang ikut duduk makan tanpa bersuara. Tidak protes. Tidak membantah satu kalimat pun. Hanya hadir, seperti orang yang tahu versi panjangnya dan memilih diam.

Piring-piring selesai. Air dituang. Duduk sebentar di ruang tengah, ponsel di tangan, televisi masih bicara sendiri.

Story yang diunggah sore tadi masih di sana — foto meja kerja dari atas, gelas kopi, sudut layar laptop, tulisan pendek di pojok. Sore tadi, sebelum memotret, meja itu sempat dirapikan sedikit dulu; gelas digeser masuk ke dalam bingkai. Tulisannya diketik, dihapus, diketik lagi yang lebih pendek, baru diunggah.

Sekarang diputar ulang. Habis. Diputar lagi. Berhenti sebentar di angka penonton. Nama-nama yang melihat digulir pelan dengan ibu jari, satu per satu, sampai ke bawah, lalu naik lagi.

Bukan karena bagus. Fotonya biasa saja, dan itu sudah diketahui sejak sebelum diunggah.

Diputar sekali lagi.

Lima belas detik itu juga hari yang sama. Hari yang sudah dipotong, dipilih sudutnya, diberi cahaya secukupnya. Hari yang bisa ditonton orang lain dalam sekali teguk. Dari kursi ruang tengah, hari itu terlihat seperti milik orang yang lumayan — sibuk yang enak dilihat, lelah yang pantas. Ditonton seperti menonton hari orang lain, dan orang lain itu memakai wajah sendiri.

Ponsel berbunyi pelan. Teman lama membalas story itu, dua emoji api. Dibalas "wkwk" dengan wajah datar. Layar dimatikan.

Lalu malam selesai di luar. Pintu kamar dibuka, lampu dinyalakan, pintu ditutup lagi dari dalam.

Dada turun pelan-pelan, seperti diberi izin. Punggung bersandar sebentar di daun pintu — sebentar saja, seperti meletakkan sesuatu yang dari tadi dibawa dengan dua tangan.

Baju kerja dilepas, disampirkan ke kursi, tidak digantung. Kipas angin berputar di sudut, suaranya rata. Tubuh duduk di tepi tempat tidur, lalu rebah, mata ke langit-langit.

Di kamar, hari yang sama datang lagi. Versi yang ini tidak bercerita. Ia tidak punya pendengar, jadi ia tidak menyusun kalimat. Yang tadi tinggal di tas keluar satu-satu tanpa diminta: nada suara atasan waktu memotong, hening dua detik sesudahnya, jawaban bagus yang baru datang lima menit setelah rapat bubar dan tidak ada gunanya lagi. Wajah sendiri yang siang tadi mengangguk-angguk sambil mencatat sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicatat.

Tidak ada urutannya. Potongan-potongan itu datang semaunya, berhenti di mana mereka mau, seperti barang yang dikeluarkan dari tas dan diletakkan begitu saja di lantai.

Versi ini tidak dirapikan. Tidak ada tamu di sini.

Ia juga tidak lebih jujur dari yang di meja makan. Ia hanya tidak disisir. Tergeletak begitu saja, seperti baju yang disampirkan tadi — dilepas, belum dilipat, belum digantung, belum diapa-apakan.

Daun pintu itu punya dua sisi. Sisi luar menghadap ruang tengah, kena cahaya lampu makan, dilewati suara televisi. Sisi dalam menghadap tempat tidur, gelap lebih dulu setiap malam. Dua permukaan, dipaku pada kayu yang sama, dicat warna yang sama, membuka dan menutup pada engsel yang sama.

Dua catatan untuk hari yang sama. Yang satu diceritakan dengan suara, sambil menambah nasi, dan diterima dengan anggukan. Yang satu dibawa berbaring, tanpa kalimat, dan tidak diserahkan kepada siapa-siapa.

Tanggalnya sama. Jamnya sama. Orang-orang di dalamnya sama. Rapat yang itu juga, meja kerja yang itu juga, kopi yang sama yang tadi masuk bingkai foto.

Di langit-langit, lampu masih menyala. Di luar, satu motor lewat, suaranya menjauh pelan. Tubuh terlentang dengan baju rumah, dan hari itu pelan-pelan selesai diputar di dalam — bukan lima belas detik, tidak ada potongannya yang bisa dipilih, tidak ada angka penonton di bawahnya.

Besok pagi meja makan akan terisi lagi. Pertanyaan yang sama akan datang beberapa hari lagi, dan cerita yang dirapikan akan keluar lagi — mungkin sedikit lebih halus, karena sudah satu kali lagi dipegang. Story itu akan hilang sendiri dalam dua puluh empat jam. Catatan yang satunya tidak ke mana-mana. Ia hanya tidak pernah dibacakan.

Lampu dimatikan. Ponsel diisi daya di meja samping tempat tidur; layarnya menyala sebentar, lalu gelap.

Dari ruang tengah, samar, televisi masih bicara. Di dada, yang tadi ikut makan tanpa bersuara belum beranjak. Tidak diusir. Tidak juga dipersilakan.

Tidur datang pelan, di antara keduanya.

Chapter 9: Kebiasaan Memegang

Gelas-gelas masih di meja ruang tengah. Sebagian kosong, sebagian setengah — teh yang sudah dingin, air putih yang tidak disentuh pemiliknya. Kursi-kursi belum kembali ke tempatnya. Jam dinding terdengar lagi; bunyi yang dari tadi pasti ada, hanya baru sekarang sampai.

Tangan mulai mengumpulkan. Satu gelas, dua gelas. Yang kecil dijepit bertiga di sela jari, dibawa ke dapur, ditaruh berderet di samping bak cuci. Keran dibuka. Air hangatnya lama datang; tangan menunggu di bawah aliran yang masih dingin, tidak ditarik.

Pekerjaan seperti ini tidak meminta apa-apa. Tangan tahu urutannya sendiri — basahi, sabun, putar, bilas. Mata boleh ke mana saja, dan ada yang sempat lewat. Di antara gelas keempat dan kelima. Bukan pikiran; lebih pelan dari pikiran. Rasa bahwa tangan ini sudah lama sekali memegang sesuatu, dan sudah lama sekali tidak menengok isinya.

Jari-jari hafal banyak bentuk. Leher gelas ini. Gagang pintu rumah. Pegangan besi di tangga stasiun, yang dingin di pagi hari dan licin di musim hujan.

Ada genggaman yang lebih tua dari semua itu. Genggaman yang tidak memegang benda.

Dulu di dalamnya ada sesuatu. Kalimat-kalimat yang dipegang dengan dua tangan. Hal-hal yang tidak akan dilakukan, titik, tanpa bagian kedua kalimat. Cara menolak yang dulu keluar cepat, hampir kasar, dan tidak meminta maaf sesudahnya. Daftar yang waktu itu tidak ditulis di mana-mana, karena terasa tidak mungkin lupa.

Bunyinya macam-macam. Tidak akan bicara dengan nada yang itu. Tidak akan tertawa hanya supaya meja tetap enak. Tidak akan jadi orang yang mengangguk dulu dan menimbang belakangan. Waktu itu daftar ini hangat di tangan, seperti benda yang baru diangkat dari jemuran siang.

Kalimat-kalimat itu masih ada. Masih bisa diucapkan sekarang juga, di depan bak cuci ini, dan bunyinya akan sama persis dengan dulu. Yang tidak sama: beratnya.

Dulu memegangnya terasa sampai ke lengan, seperti membawa sesuatu yang penuh. Sekarang tangan masih pada posisi memegang, jari masih menekuk pada bentuk yang sama — dan tidak ada beban yang menarik ke bawah.

Tidak tahu lagi apakah yang dipegang itu masih di situ, atau tangan hanya meneruskan bentuknya.

Tangan yang pulang dari pasar tahu rasa ini. Kantong plastik yang berat digantung di jari sepanjang jalan; sampai di rumah, kantong diturunkan, dan jari tidak langsung lurus. Masih menekuk sebentar, masih membentuk pegangan, padahal sudah tidak ada apa-apa di situ.

Gelas kelima dibilas. Busa turun pelan ke lubang bak.

Berat badan pindah ke kaki kiri. Punggung bawah mulai terasa, seperti setiap kali berdiri agak lama di depan bak ini. Air di sela jari mulai berubah hangat — hangat yang datang terlambat, dan tetap dipakai.

Orang-orang masih menyebutnya seolah masih ada. Kamu kan orangnya begitu, kata mereka, dengan yakin, sambil menunjuk hal yang dulu memang dipegang erat itu. Yang ditunjuk mengangguk. Bukan karena setuju, bukan juga karena tidak. Mereka menyebut sesuatu yang mereka lihat bertahun-tahun lalu, dan tidak ada yang mengoreksi, karena yang akan mengoreksi pun tidak tahu kalimat penggantinya.

Pernah, di kereta pulang yang lewat jam sepuluh malam, tertidur. Bukan tidur yang diputuskan — kepala turun sendiri, hangat gerbong, ayunan rel. Terbangun bukan karena guncangan. Terbangun saja, dan nama stasiun yang disebut pengeras suara bukan nama yang ditunggu. Tiga stasiun lewat. Mungkin empat. Gerbong hampir kosong; di kaca, lampu-lampu lewat tanpa nama. Tidak ada yang perlu ditanya — peta jalur di atas pintu sudah menunjukkan semuanya, dengan titik-titiknya yang rata.

Yang paling lama dari bangun seperti itu bukan kagetnya. Kaget hanya sebentar. Yang lebih lama adalah bagian ini: tidak ada sambungan. Tadi masih di sana, sekarang sudah di sini, dan di antara keduanya tidak ada apa-apa yang bisa diingat. Stasiun-stasiun yang terlewat itu tetap dilewati — kereta tidak melompat — hanya saja dilewati tanpa ada yang menjaga.

Tidak ada hari di mana sesuatu dilepas. Tidak ada keputusan, tidak ada pertengkaran dengan diri sendiri, tidak ada malam di mana satu hal ditaruh lalu ditinggal pergi. Yang ada hanya anggukan-anggukan kecil. Satu anggukan di ruang rapat. Satu tawa di meja yang ramai. Satu "tidak apa-apa" yang keluar lancar, lebih lancar dari yang diduga. Masing-masing kecil. Masing-masing wajar. Masing-masing, kalau dilihat sendiri-sendiri, tidak kelihatan memindahkan apa-apa.

Dan memang tidak ada yang bisa ditunjuk. Bukan anggukan yang itu. Bukan tawa yang itu. Kalau ada satu kejadian, satu tanggal, satu ruangan — mungkin lebih ringan, ada tempat untuk meletakkan ini. Yang ada hanya jarak. Bangun beberapa stasiun lewat, dan jendela menunjukkan daerah yang tidak dikenal betul, tapi juga tidak asing betul.

Gelas-gelas selesai. Sekarang piring kecil bekas kue, dua, tiga. Sabun yang sama, gerakan yang sama.

Di gantungan kunci yang tergeletak di meja dapur ada satu anak kunci yang tidak membuka apa-apa lagi. Gerendel pintunya sudah lama diganti, sudah bertahun-tahun. Dulu kunci itu dipakai setiap hari; tangan masih bisa membayangkan bunyinya — masuk, putar dua kali, tarik. Anak kunci itu tetap di situ, ikut ke mana-mana, ikut berbunyi di saku setiap hari. Jari hafal bentuknya di antara kunci-kunci yang lain; kalau gantungan itu dipegang dalam gelap, jari tahu yang mana dia. Hafal tanpa pernah memakai.

Melepasnya dari gantungan tidak pernah dilakukan. Bukan ditimbang lalu tidak jadi — tidak pernah sampai ditimbang. Dia sudah terlalu lama di situ untuk kelihatan. Berat tambahannya tidak terasa. Bunyinya sudah jadi bagian dari bunyi gantungan itu sendiri.

Malam ini tidak memutuskan apa-apa. Air di keran justru hangat sekarang, ketika cucian hampir habis.

Piring terakhir dibilas, ditaruh miring di rak pengering. Gelas-gelas berdiri terbalik, air menetes pelan dari bibirnya, satu-satu. Bunyi tetesan itu akan berhenti sendiri nanti. Tidak perlu ditunggu.

Lap tangan tergantung di paku samping kulkas. Tangan dikeringkan, lampu dapur dimatikan. Kursi-kursi di ruang tengah dibiarkan; besok saja. Rumah sudah pada suaranya yang paling kecil — kulkas, jam dinding, sesekali motor lewat jauh di jalan besar.

Di kamar, ponsel dicas. Alarm tidak diubah, masih di jam yang sama dengan kemarin, dan besoknya lagi. Lampu utama dimatikan, lampu kecil dibiarkan menyala.

Badan berbaring.

Di atas kasur, sebelum tidur datang, tangan tergeletak begitu saja di samping badan. Jari-jarinya tidak lurus betul. Sedikit menekuk, seperti masih memegang sesuatu.

Besok kereta yang sama, jam yang sama. Kalau tidak tertidur, stasiun-stasiun itu akan kelihatan satu-satu dari jendela, seperti biasa.

Chapter 10: Lelah yang Tidak Ada Bekasnya

Pertemuan selesai lima menit lebih cepat dari jadwal. Semua poin lewat tanpa tersangkut. Pertanyaan yang semalam disiapkan jawabannya ternyata tidak ditanyakan. Dua kali ada tawa kecil di meja — pada tempatnya, pada takarannya. Lalu salaman, nanti saya kirim ringkasannya ya, anggukan-anggukan terakhir di dekat pintu ruang rapat.

Tidak ada yang perlu diralat. Catatan yang disiapkan semalam terpakai semua, urut, tidak ada yang tersisa di halaman keduanya. Bahkan bagian yang biasanya alot — angka, tanggal, siapa memegang apa — lewat dengan anggukan-anggukan.

Gelas-gelas air kemasan ditinggal setengah di meja panjang. Kabel pengisi daya digulung, laptop masuk ke tas. Di lorong masih ada satu obrolan pendek dengan orang yang searah ke lift — tentang hujan yang katanya datang sore ini, tentang jalan yang pasti padat. Itu pun berjalan baik.

Pintu lift menutup. Untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak ada yang sedang menunggu jawaban.

Kalau nanti ada yang bertanya tadi bagaimana, jawabannya sudah siap: baik, lancar. Dua kata, dan memang hanya itu isinya. Tidak ada satu kejadian yang bisa diceritakan panjang. Tidak ada yang tersinggung, tidak ada yang memotong, tidak ada yang harus dibereskan besok. Hari yang kalau ditulis di laporan hanya jadi satu baris.

Di lobi, mesin pembaca berbunyi pendek waktu kartu ditempelkan. Di luar, sore baru mulai panjang bayangannya. Kaki tahu sendiri jalan ke stasiun.

Kereta datang tidak terlalu penuh. Ada tempat duduk di dekat pintu, menghadap jendela yang sebentar gelap, sebentar terang.

Begitu duduk, tangan naik ke leher tanpa diminta. Tali ID card ditarik lewat kepala, digulung asal, dimasukkan ke kantong depan tas. Seharian benda itu menggantung di situ. Kerja sungguhannya hanya dua detik di mesin lobi; sisanya ikut saja — bergoyang kecil setiap melangkah, menempel di dada setiap duduk, dibolak-balik jari waktu menunggu rapat dimulai.

Bahu turun. Bukan diturunkan — turun sendiri, seperti muatan yang tali pengikatnya dilepas. Baru setelah turun terasa bahwa dari tadi dia naik. Sejak kapan naiknya, tidak ada yang mencatat. Mungkin sejak pintu lobi pagi tadi. Mungkin sejak halte.

Badan masih duduk dengan cara duduk yang tadi — punggung agak tegak, lutut rapat. Pelan-pelan cara duduk itu bubar sendiri. Punggung mencari sandaran, kaki memanjang sedikit ke ruang yang ada. Tidak ada yang melihat, dan tidak ada yang sedang dilihat.

Tangan, yang seharian memegang sesuatu — pulpen, gagang pintu ruang rapat, ponsel yang digenggam di bawah meja — sekarang terbuka begitu saja di pangkuan. Botol air yang dibawa dari ruang rapat masih hampir penuh di dalam tas; seharian hanya diteguk dua kali, di jeda-jeda yang sempit.

Pipi pegal. Bukan pegal kaki sehabis jalan jauh, bukan pegal lengan sehabis mengangkat. Pegal di wajah — di otot-otot kecil yang seharian bekerja tanpa pernah disebut bekerja, yang menjaga senyum tetap pada lebar yang pantas, dari pagi sampai salaman terakhir.

Tenggorokan juga. Suara hari ini dipakai pada nada yang itu — sedikit lebih tinggi, lebih jernih, lebih rapi dari suara di rumah. Sekarang tidak ada yang perlu dikatakan ke siapa-siapa, dan tenggorokan terasa seperti habis dipakai lama. Padahal yang diucapkan tidak banyak.

Lelah yang ini tidak punya bukti. Tidak ada keringat yang mengering di punggung. Tidak ada kotor di lengan kemeja.

Kalau hari ini memindahkan galon, ada bahu yang besok pagi bisa menunjuk bekasnya. Kalau lembur sampai gedung sepi, ada jam yang bisa disebut. Hari ini tidak ada. Pertemuan berjalan baik, semua pulang dengan wajah ringan, kelihatannya. Dan badan pulang seperti habis memikul — tanpa satu pun yang bisa diperlihatkan, bahkan ke diri sendiri.

Ponsel di genggaman tinggal sebelas persen. Padahal hari ini tidak dipakai menonton apa-apa, tidak dipakai menelepon siapa-siapa. Hanya menyala terus. Terang terus di tempat yang terang, siaga dari pagi, dinyalakan berkali-kali hanya untuk dilihat sebentar lalu dikunci lagi.

Stasiun-stasiun lewat dengan nama yang sudah hafal, jadi pengumumannya tidak perlu didengarkan sungguh-sungguh. Di gerbong, orang-orang duduk dengan tas di pangkuan, sebagian tertidur dengan kepala yang ikut ayunan rel. Jam segini, isi kereta pulang semua.

Turun di stasiun yang biasa. Kaki membawa lewat jalan yang biasa — warung yang mulai menggoreng untuk malam, motor-motor yang sama-sama pulang, gang yang satu lampunya sudah seminggu mati. Tidak ada yang berat di jalan ini. Hanya jarak yang tinggal dihabiskan.

Pintu kamar ditutup dari dalam. Lidah kunci masuk ke rumahnya dengan bunyi kecil yang sama setiap malam.

Dada turun pelan-pelan. Seperti ada yang sedari pagi menahan di bagian tengah badan dan baru sekarang berganti jaga. Punggung bersandar sebentar di daun pintu. Tas masih menggantung di satu bahu. Lampu belum dinyalakan; cahaya luar masuk sedikit lewat celah gorden, cukup untuk melihat kamar masih persis seperti yang ditinggalkan pagi tadi — handuk di sandaran kursi, gelas kemarin di meja, kasur yang dibiarkan.

Berdiri saja dulu di situ. Selama yang dibutuhkan punggung.

Dari tempat berdiri ini kamar terasa kecil dan cukup. Tidak ada yang meminta apa-apa di sini. Kursi tidak bertanya, meja tidak menunggu. Gelas kemarin pun diam saja di tempatnya.

Hari belum larut. Jam di dinding kamar masih menunjukkan jam yang boleh untuk apa-apa. Badan saja yang sudah ada di jam sebelas.

Kancing paling atas dibuka. Kemeja hari ini tidak kotor. Kalau digantung sekarang, besok masih kelihatan rapi, masih bisa dipakai sekali lagi. Tidak ada bekas hari di kain itu.

Lelah sehabis mengangkat tahu jalannya sendiri ke kasur. Lelah yang ini belum tahu mau ke mana. Ia berdiri dulu di punggung pintu, ikut bersandar.

Nanti badan bergerak juga. Lampu dinyalakan. Tas diturunkan ke lantai dekat meja. Air di kamar mandi dingin di awal, dibiarkan, lama-lama tidak terasa dinginnya. Nasi sisa pagi dipanaskan, dimakan menghadap apa saja yang ada di depan.

Ponsel dicas di dekat bantal. Kartu itu besok dipakai lagi — talinya masih tergulung asal di kantong depan tas, dan akan dipakai dalam keadaan tergulung asal juga, dirapikan di kereta sambil berangkat.

Di luar, gang sudah pada suara malamnya. Pagar tetangga ditutup. Air menetes di kamar mandi sebelah. Pipi masih pegal sedikit waktu mata mulai terpejam.

Chapter 11: Berdiri di Samping Nama Sendiri

Di kondangan, di antara meja prasmanan dan kursi-kursi bersarung putih, seorang om menepuk bahu dan menarik pelan ke arah temannya.

"Ini lho," katanya, "yang kerjanya di" — lalu nama perusahaan itu disebut. Jelas, agak naik di ujung, seperti orang menyebut alamat yang bagus.

Temannya mengangguk. "Oh. Yang itu."

Dua kata itu cukup.

Tangan bersalaman. Senyum keluar tepat pada waktunya. Mulut menambahkan satu dua hal yang tidak ditanyakan — bagian apa, sudah berapa lama — pelan, seperti menyetor kembalian.

Kalimat itu berdiri di antara dua orang yang saling kenal. Dan ada yang berdiri di sampingnya.

Jaraknya tipis. Tidak sampai sejengkal. Tapi terasa di badan: kaki yang berdiri agak serong, berat yang condong ke satu sisi, seperti orang yang menemani temannya difoto dan tidak tahu apakah ia ikut masuk bingkai.

Tidak ada yang meleset dari kalimat itu. Nama perusahaannya memang itu. Kotanya itu. Lamanya bekerja cocok. Kalimat itu tidak mengarang apa-apa.

Hanya saja, yang disalami orang-orang adalah kalimat itu. Tangan ini ikut, sebagai pelengkap.

Teman om itu bertanya, betah atau tidak di sana. Jawabannya keluar rapi, sudah ada lipatannya, seperti baju yang disetrika setiap minggu dengan cara yang sama. Suara sendiri terdengar dari dekat — sopan, cukup hangat, tidak terlalu panjang — dan terdengar seperti suara yang sedang diputar, bukan yang sedang dipakai.

Lalu dua orang itu bicara berdua. "Anaknya memang pinter dari dulu," kata om itu. Kata -nya. Orangnya berdiri di situ, memegang piring, mendengar dirinya diberitakan seperti kabar baik dari kota lain.

Piring di tangan masih setengah penuh. Supnya sudah tidak panas. Sendok diaduk pelan, supaya tangan ada kerjanya.

Om itu pindah ke meja sebelah. Kalimatnya dibawa serta. Beberapa menit kemudian terdengar lagi dari jauh — ini lho, yang kerjanya di — dipakai untuk orang yang berbeda, dengan tepukan di bahu yang berbeda. Kalimat itu bekerja sendiri.

Kalimat itu tidak jahat. Nada bangganya sungguh-sungguh. Yang terasa hanya posisi berdirinya — badan di samping, bukan di dalam. Seperti mendengar nama sendiri dipanggil di ruang tunggu, dan perlu sepersekian detik untuk yakin itu nama siapa.

Di tepi tenda, gelas es teh berkeringat di tangan. Punggung menemukan tiang dan bersandar sedikit. Dari situ suara-suara terdengar seperti dari ruangan sebelah, padahal jaraknya hanya beberapa langkah.

Pipi masih hangat sisa senyum yang tadi. Bukan senyum yang berat — hanya senyum yang dikerjakan, dan pipi yang mengerjakannya belum diberi tahu bahwa tugasnya sudah selesai.

Di warung, orang menyampirkan jaket di kursi untuk menandai tempat. Kursi itu terisi meskipun orangnya entah ke mana. Yang datang belakangan cukup melihat jaketnya; mereka tidak perlu bertemu pemiliknya untuk tahu kursi itu ada yang punya.

Ia menduduki tempat. Ia disapa, ditanya kabar, ditepuk-tepuk. Pemiliknya bisa sedang berdiri di tepi tenda, memegang gelas yang dingin, memperhatikan jaketnya bergaul.

Acara berjalan.

Waktu pamit, om itu yang bicara ke orang-orang: duluan ya, anaknya sibuk, besok kerja. Kalimat itu juga bukan miliknya. Badan mengangguk, ikut bersalaman keliling, lalu berjalan ke parkiran di belakang kalimat itu, beberapa langkah di belakangnya.

Di kalender, ada satu tanggal yang sudah tiga minggu duduk di sana. Reuni. Setiap kali kalender dibuka, tanggal itu terasa lebih tebal daripada tanggal-tanggal di sekitarnya.

Susunan acaranya sudah kebayang. Pertanyaannya sudah kebayang, juga jawaban-jawaban yang mulai dilipat dari sekarang. Baju untuk hari itu bahkan sudah dipilih jauh-jauh hari, di dalam kepala saja. Dan sudah kebayang pula kalimat itu — yang pasti akan berdiri lagi di sana, berpindah dari mulut ke mulut, ini lho, yang sekarang di — sementara tubuh ini mengambil tempatnya yang biasa: di samping, agak serong, setengah masuk bingkai.

Dua kali alasan untuk tidak datang disusun di kepala. Dua kali alasan itu dibatalkan sendiri, sebelum sempat diucapkan ke siapa-siapa. Bukan karena ingin datang. Bukan juga karena tidak ingin. Alasan-alasan itu batal begitu saja, seperti payung yang disiapkan lalu tidak jadi dibawa.

Tiga minggu itu dibawa ke mana-mana. Tidak berat. Hanya mengganjal, seperti kerikil kecil di sepatu yang tidak cukup mengganggu untuk membuat berhenti dan membukanya. Di kereta, di antrean makan siang, di sela rapat — kerikil itu ikut. Kadang terlupa. Lalu kalender terbuka lagi, dan telapak kaki ingat lagi.

Lalu, suatu sore, pesan masuk di grup. Acara batal. Tempatnya tidak jadi, panitianya mundur, alasannya panjang, sopan, dan tidak penting.

Lega datang duluan. Cepat sekali. Bahkan sebelum pesan selesai dibaca, bahu sudah turun. Napas yang tiga minggu ini disimpan entah di mana keluar pelan, panjang, tanpa suara. Malam di tanggal itu tiba-tiba luas.

Lega itu sungguhan. Tubuh tidak berpura-pura. Kursi diduduki lebih dalam. Kaki selonjor.

Lalu, sesudah lega selesai dengan urusannya, datang yang satu lagi. Kosong. Ia tidak menggantikan lega. Ia masuk, dan duduk di sebelahnya.

Seperti lemari besar yang akhirnya dikeluarkan dari kamar. Kamar langsung lapang; dada ikut lapang. Lalu mata jatuh ke lantai: di tempat lemari itu bertahun-tahun berdiri, ada bekas persegi yang warnanya lebih muda daripada lantai di sekelilingnya. Kosong, dan bentuknya jelas sekali.

Malam yang dibebaskan itu ternyata tidak berisi apa-apa.

Sore itu rumah dikelilingi pelan-pelan, tanpa keperluan. Kulkas dibuka, dilihat sebentar, ditutup lagi. Ponsel diangkat, diletakkan. Ada jam-jam yang tadinya sudah dijatahkan untuk gugup, dan sekarang tidak ada yang mengambilnya.

Di luar, tetangga menyiram halaman. Suara air kena daun. Jam dinding berjalan dengan suara yang biasanya tidak terdengar.

Lega masih duduk di situ. Kosong juga. Keduanya bersebelahan, seperti dua tamu yang datang ke acara yang sama tanpa saling kenal. Tidak bertengkar. Tidak berkenalan. Tidak ada yang dipersilakan pulang lebih dulu. Keduanya dibiarkan duduk, tanpa ditanya keperluannya masing-masing.

Di grup, balasan berdatangan. Yah, padahal sudah siap-siap. Tahun depan ya. Stiker. Jempol ikut mengetik sesuatu yang pendek dan ramah — siap, kabari lagi ya — lalu kirim. Jempol selalu tahu kalimat yang pantas.

Makan malam dibeli di warung depan. Porsinya biasa. Rasanya biasa. Televisi menyala untuk tayangan yang tidak ditonton sungguh-sungguh. Gelas dicuci. Lampu ruang tengah dimatikan.

Sebelum tidur, kalender dibuka sekali lagi. Tanggal itu sekarang sama tipisnya dengan tanggal-tanggal lain. Tidak ada yang dicoret. Tidak ada yang perlu dicoret. Tanggal itu hanya kembali menjadi tanggal.

Besok hari kerja. Baju sudah tergantung di paku belakang pintu. Nama itu akan dipakai lagi — disebut di telepon, dipanggil dari meja sebelah, ditulis di daftar hadir.

Dan seperti biasa, kalau ia dipanggil, ada yang datang.

Chapter 12: Yang Masih Disimpan

Rak itu di ruang tengah, menempel dinding, setinggi dada. Tiga susun. Susun atas untuk piala-piala, susun tengah untuk bingkai-bingkai sertifikat, susun bawah untuk barang-barang yang tidak masuk dua susun di atasnya — kotak bekas jam tangan, gulungan kabel yang entah punya alat apa, gantungan kunci dari kota lain yang masih di dalam plastiknya.

Hari membersihkan rumah sampai juga ke sini. Kain lap di tangan sudah setengah lembap, sudah lewat meja dan kusen jendela. Rak ini memang selalu kebagian belakangan.

Rumah sedang pada jam sepinya. Pagi sudah selesai dengan urusannya; yang tersisa tinggal pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak diburu siapa-siapa. Suara yang ada hanya kain yang menggesek kayu, dan sesekali napas sendiri.

Piala pertama diangkat. Ringan — selalu lebih ringan daripada kelihatannya. Badannya plastik berlapis warna emas; beratnya hanya di alas, yang dibuat menyerupai marmer. Tangan sudah lama hafal berat itu. Kaget kecil yang dulu ada waktu pertama kali mengangkatnya sudah lama tidak datang lagi.

Kain memutar di badan piala, turun ke alas, masuk ke sela figur kecil di puncaknya. Figur itu memegang satu sikap: kedua lengan terangkat, satu kaki di depan. Bertahun-tahun sikapnya itu-itu saja. Yang datang dan pergi hanya debu.

Di alas ada pelat kecil dengan tulisan timbul. Mata tahu persis letaknya. Warna emas hurufnya sudah mengelupas sebagian, tinggal cekungan-cekungannya. Kain lewat di atas tulisan itu dua kali, pelan. Membaca tidak terjadi. Mata bergerak di atas huruf-huruf itu seperti di atas motif taplak — tahu ada, tidak masuk.

Piala kedua, ketiga. Yang ketiga figurnya longgar; kalau dilap agak kuat ia berputar sedikit di porosnya, dan jari sudah hafal: dilap pelan, lalu diluruskan lagi menghadap depan. Yang satunya lagi, kain pelapis di bawah alasnya mengelupas di satu pojok; setiap kali diangkat, pojok itu yang dijaga duluan supaya tidak tergesek.

Lalu susun tengah. Bingkai-bingkai dilap kacanya, satu-satu. Di balik kaca ada nama sendiri, ditulis tangan orang dengan huruf tegak bersambung, dan tanda tangan yang tintanya mulai pudar ke arah ungu. Kertasnya sekarang lebih kuning daripada kuning yang dulu. Nama itu terbaca jelas dari jarak ini, sekali lewat, seperti nama di amplop yang sudah ketahuan isinya. Sisanya — kalimat panjang di bawah nama, angka tahun, baris-baris kecil di bagian bawah — dilewati. Debunya yang diurus.

Di salah satu bingkai, di pojok dalam kacanya, ada serangga kecil yang entah sejak kapan masuk dan tidak menemukan jalan keluar. Sudah kering, sudah lama. Mengeluarkannya berarti membuka bingkai. Bingkai tidak pernah dibuka.

Lutut menapak lantai waktu sampai di susun bawah. Sendi berbunyi kecil, sekali. Debu yang terangkat membuat hidung gatal; bersin sekali, tertahan, ke arah bahu sendiri. Lengan yang sedari tadi naik-turun mulai menyimpan pegal di pangkalnya, dekat bahu — pegal tipis, yang baru akan terasa penuh nanti malam. Ujung-ujung jari mulai abu-abu. Sesekali kain dibalik, mencari sisi yang masih bersih, dan sisi yang masih bersih makin sedikit.

Pekerjaan ini telaten. Setiap barang diangkat, dilap, dikembalikan ke titiknya. Tangan hafal titik-titik itu tanpa pernah menandai: piala yang ini serong sedikit ke kiri, bingkai yang itu mepet ke dinding. Bertahun-tahun gerakannya sama.

Sekarang tidak ada yang sampai ke rak ini. Dan yang dulu menerima barang-barang ini — tangan yang ini juga — sudah lama tidak berdiri di depannya untuk melihat. Berdirinya sekarang hanya untuk melap.

Tangan tetap datang. Kainnya tetap basah. Gerakannya tetap rapi. Hanya penerimanya yang sudah lama tidak jelas. Tidak ada yang bertanya, dan tidak ada yang menjawab.

Membuang tidak pernah jadi pikiran. Kardus di gudang ada, ukurannya cukup, jaraknya dari rak ini sepuluh langkah. Sepuluh langkah itu tidak pernah ditempuh dengan piala di tangan. Barang-barang ini tetap di sini, tidak diputuskan sebagai apa — masih milik, atau belum dibuang. Dua-duanya tidak pernah diucapkan.

Di belakang bingkai paling ujung, terselip miring, ada buku tulis lama. Sampulnya sudah lemas, sudutnya menggulung; tepi halamannya cokelat tua, lebih tua daripada bagian tengahnya. Ia ikut terangkat waktu bingkai diangkat, dan halaman-halamannya membuka sendiri di tempat yang dulu sering dibuka.

Tulisan tangan sendiri. Miring ke kanan, besar-besar, menekan — di beberapa kata bolpoinnya hampir tembus ke halaman belakang. Ada garis bawah dobel. Ada tanda seru yang sekarang terasa keras, seperti suara yang terlalu kencang untuk ruangan ini.

Dua baris terbaca. Tidak sengaja — terbaca duluan, sebelum sempat tidak dibaca.

Bunyinya masih kenal. Kalimat yang disusun tanpa menunggu disetujui siapa-siapa. Kata yang dipilih tanpa menimbang dulu jatuhnya di telinga. Bunyi yang yakin, agak kasar di ujung-ujungnya, dan tidak meminta maaf sesudahnya.

Yang datang bukan ingatan tentang kejadian di balik tulisan itu. Yang datang lebih pelan, dan tinggal lebih lama: rindu. Bukan pada masa itu — masa itu biar saja di tempatnya. Rindu pada cara bicaranya. Pada mulut yang dulu memakai kalimat-kalimat seperti ini di luar buku tulis, bukan hanya di dalamnya.

Kapan terakhir kalimat seperti itu keluar, tidak ada catatannya. Buku ini rajin: di sudut tiap halaman ada tanggal, lengkap dengan harinya. Berhentinya tidak diberi tanggal. Tidak ada halaman terakhir yang ditandai. Hilangnya tidak punya hari, tidak punya tempat kejadian, tidak punya bekas yang bisa ditunjuk.

Buku ditutup pelan. Dikembalikan ke belakang bingkai, miring, seperti tadi.

Di dapur, di laci paling bawah, ada kaleng bekas permen yang isinya kancing. Kancing cadangan. Dulu setiap kemeja baru datang dengan satu kancing serep di plastik kecil, dan plastik-plastik itu selalu dibuka, kancingnya dipindah ke kaleng, disimpan baik-baik. Kemejanya satu per satu selesai — longgar, sobek di siku, turun jadi kain lap.

Kancing-kancingnya masih di kaleng semua. Warnanya macam-macam — putih susu, abu-abu, satu dua yang bening. Tidak ada lagi kemeja yang bisa dipasangi. Tidak ada yang bisa menunjuk kancing mana milik kemeja yang mana. Kalengnya tidak pernah dibuang. Setiap kali laci dibereskan, kaleng itu diangkat, dilap bawahnya, dikembalikan ke pojoknya, dan laci ditutup lagi.

Rak selesai. Semua kembali ke titiknya: piala-piala pada jaraknya masing-masing, figur yang longgar sudah diluruskan menghadap depan, bingkai-bingkai rata dengan dinding. Dari tiga langkah, susunan itu kelihatan terawat. Memang terawat.

Kain dibilas di keran belakang. Airnya keruh sebentar, lalu bening. Diperas dua kali, dijemur di tali samping mesin cuci. Telapak masih menyimpan bau debu dan bau logam tipis; bau itu akan hilang sendiri, biasanya sebelum makan siang.

Rumah kembali ke suaranya sendiri. Segelas air diminum berdiri di dapur, menghadap jendela kecil di atas bak cuci. Tidak ada yang perlu disiapkan untuk siapa-siapa hari ini.

Sore masuk lewat jendela ruang tengah seperti biasa, miring, dan sampai juga ke susun paling atas. Bayangan figur kecil itu memanjang sedikit di dinding — kedua lengan tetap terangkat, satu kaki tetap di depan — di ruangan yang tidak ada siapa-siapa.

Debu akan kembali. Kainnya akan basah lagi, dan tangan sudah tahu urutannya.

Epilog: Kaca Jendela Kereta Malam

Kereta berangkat lewat pukul sembilan. Gerbong setengah kosong. Pendingin udara terlalu dingin untuk jaket yang dibawa; tas dipangku saja, tidak dinaikkan ke rak.

Di luar, kota tinggal lampu-lampu.

Di kaca jendela ada wajah. Wajah sendiri, tapi tidak penuh — lampu toko menembus pipi, tiang-tiang lewat di dahi, papan reklame menyala sebentar di tempat mata lalu pergi lagi.

Wajah itu ditatap. Lama.

Di rumah, kaca kamar mandi tidak pernah mendapat tatapan selama ini. Di sana mata cepat turun, cepat pindah ke hal lain. Di sini mata betah. Pantulan itu ditatap, dan ia membiarkan dirinya ditatap.

Kepala disandarkan ke kaca. Dingin sampai ke pelipis. Getar rel naik halus lewat lantai, lewat kursi, lewat tulang punggung yang akhirnya menemukan sandaran. Bahu turun pelan — tidak diturunkan; turun sendiri.

Kota terus lewat di belakang wajah itu. Atau di dalamnya; dari kursi ini sulit dibedakan. Gudang panjang. Deretan ruko yang sudah tutup. Lampu merah yang menyala untuk jalan kosong. Semuanya menembus dahi, pipi, leher, dan wajah itu tidak rusak karenanya. Ia tetap di situ, setengah ada, ikut bergetar pelan mengikuti rel.

Stasiun kecil lewat tanpa berhenti. Peron pendek, papan nama yang tidak sempat terbaca, satu petugas berdiri dengan lampu di tangan, lalu sudah. Di ujung gerbong seseorang menelepon dengan suara rendah — menyebut jam tiba, menyebut nanti, menyebut iya, iya. Penumpang di seberang tidur dengan kepala miring, mulut sedikit terbuka.

Wajah di kaca masih di situ. Ikut menunggu entah apa.

Lampu kota makin jarang. Satu dua titik jauh — mungkin rumah, mungkin gardu. Lalu habis.

Begitu luar gelap, kaca berubah. Pantulan jadi lebih jelas, lebih penuh. Tidak ada lagi yang lewat menembusnya. Tinggal wajah saja, dengan lampu gerbong kuning di atasnya, dan gelap yang rata di belakangnya.

Wajah yang tiba-tiba utuh itu ditatap sebentar. Lebih sebentar dari yang tadi.

Lalu mata pindah — ke pantulan lampu gerbong, ke pantulan kursi-kursi, ke pantulan tangan sendiri di pangkuan.

Telepon di ujung gerbong sudah selesai. Tinggal bunyi rel, rata, panjang, sesekali berubah nada saat melintasi jembatan — di bawahnya sungai, mungkin; tidak kelihatan, hanya bunyinya yang sebentar lebih dalam.

Kepala tetap di kaca. Dingin sudah tidak terasa dingin lagi, hanya keras. Jaket ditarik sedikit menutup leher. Tas di pangkuan ikut hangat di tempat tangan menindihnya dari tadi.

Tidak ada yang sedang dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Ada yang dibawa, itu saja — sebagian di tas yang dipangku, sebagian di tempat lain yang tidak ikut dipangku.

Sesekali ada cahaya lewat lagi di luar — lampu truk di jalan yang sejajar rel, jendela rumah yang masih menyala sendirian. Cahaya itu menembus wajah di kaca sebentar, lalu wajah itu kembali sendiri.

Stasiun berikutnya masih jauh. Penumpang seberang menggeser kepala tanpa bangun. Lampu gerbong berkedip sekali, lalu tenang lagi.

Di kaca, wajah itu masih di situ. Ikut dibawa.

Kereta tetap berjalan.