Skip to content
Archive / Volume 11
Cover of the book Peta, Human OS volume 11

Module · P11 · Meaning

Peta

Existential Orientation

Excerpt: Prologue + Chapter 1 · ~8 min read

> prologue

Titik Kamu di Sini

Ada papan peta di ujung taman, dipasang di tiang besi, sedikit miring.

Kacanya berembun di pojok bawah. Di baliknya, sehelai peta cetak: garis-garis jalan, kotak-kotak bangunan, beberapa nama yang sudah luntur di tempat yang sering kena matahari.

Di tengahnya ada satu titik. Sebuah lingkaran kecil dengan panah pendek yang menuding ke arahnya. Di sebelahnya, tulisan: kamu di sini.

Berdiri di depan papan itu, mata mencari titik itu lebih dulu, sebelum mencari apa pun yang lain.

Panah itu menuding ke satu lingkaran di antara ribuan garis. Bukan ke yang di kiri. Bukan ke yang di kanan. Ke yang ini.

Tidak ada yang istimewa di lingkaran itu. Sama dengan lingkaran lain di seluruh papan—garis dan kotak dan nama yang sama luntur. Yang membedakannya hanya panah. Hanya keterangan yang ditempel di situ oleh seseorang yang memasang papan ini, di suatu hari yang tidak diketahui, sebelum kaki ini sampai.

Mata bergerak sebentar ke titik di sebelah. Lalu ke titik yang lebih jauh. Semuanya bisa juga ditulisi kamu di sini. Tidak ada di dalam lingkaran-lingkaran itu yang menolak panah. Panah itu kebetulan jatuh di sini. Bisa jatuh di mana saja.

Jari menyentuh kaca di atas titik itu. Kaca terasa dingin. Embun di pojok bawah tidak ikut tersentuh.

Sesuatu di tatapan itu menahan. Bukan karena salah. Titiknya benar—kaki memang berdiri di depan papan ini, di taman ini. Hanya saja, dilihat lama-lama, kebenarannya terasa tipis. Seperti benar yang ditempel, bukan benar yang tumbuh dari tempatnya.

Papan itu tetap diam. Panahnya tetap menuding.

Lalu ada jeda.

Ada titik serupa di sini. Bukan di papan. Di dalam tubuh sendiri.

Bukan lingkaran yang bisa disentuh dengan jari di atas kaca. Lebih seperti satu tempat di belakang dada tempat seseorang merasa sedang berdiri sekarang. Di hari ini. Di umur ini. Di ruangan yang sama seperti kemarin.

Titik itu juga ditandai sesuatu. Ada keterangan yang menempel padanya—ini pekerjaannya, ini alamatnya, sudah sampai di sini, sudah sejauh ini. Keterangan yang biasa diucapkan saat ditanya, lancar, tanpa tersendat.

Tetapi dilihat dari dalam, panah yang menuding titik ini terasa sama sembarangnya. Bisa menuding ke umur yang lain, ke kota yang lain, ke hari lain yang juga akan terasa seperti yang ini. Tidak ada di dalam titik ini yang menolak panahnya. Ia kebetulan jatuh di sini.

Ada rasa tipis di ulu hati saat menatap titik itu terlalu lama. Bukan sedih. Bukan takut. Hanya ruang yang lowong di tempat yang seharusnya penuh oleh rasa bahwa ya, di sinilah, tepat di sini.

Sulit menemukan kapan panah itu ditempelkan. Lebih sulit lagi mengingat papan ini sebelum ada panahnya—apakah dulu seluruh lingkaran terasa sama mungkinnya, apakah dulu titik ini belum lebih berhak ditunjuk daripada titik yang lain.

Tubuh tidak menyimpan jawaban itu. Tubuh hanya menyimpan titiknya. Dan rasa berdiri di atasnya.

Sebuah panah pendek yang menuding satu lingkaran di antara ribuan. Keterangan yang menempel di situ, dingin seperti kaca. Embun di pojok yang tidak ikut tersentuh.

Panah itu tetap di sana. Di kaca, dan di dalam.

Angin lewat. Daun di atas papan bergoyang. Titik kamu di sini diam.

> chapter 01

Ruangan yang Sama Setelah Sampai

Pagi pertama datang seperti pagi mana pun.

Alarm berbunyi di jam yang sama. Tangan keluar dari selimut, mematikannya dengan gerakan yang sudah hafal. Punggung masih berat menempel di kasur, ada lapisan kantuk yang sama menggantung di kelopak, sama persis seperti kemarin, sama seperti seratus pagi sebelumnya.

Hanya saja hari ini berbeda. Hari ini hal itu sudah tercapai.

Kemarin malam tanda tangan terakhir sudah dibubuhkan. Angka sudah masuk. Kabar sudah datang. Yang dikejar bertahun-tahun, yang dibayangkan akan mengubah segalanya, kini sudah berada di tangan, sudah lewat, sudah selesai.

Dan pagi tetap pagi. Langit-langit masih retak halus di sudut yang sama.

Tubuh duduk di tepi kasur.

Telapak kaki menyentuh lantai yang dingin, sama seperti tiap pagi. Ada jeda di mana tubuh hanya diam di situ, menunggu.

Menunggu sesuatu di ulu hati. Sesuatu yang dijanjikan akan datang ketika titik itu akhirnya diinjak—rasa hangat, rasa penuh, rasa bahwa semuanya berubah arah.

Di ulu hati hanya ada ruang. Ruang yang tadinya penuh oleh pengejaran, sekarang lowong. Bukan sedih. Bukan lega. Hanya lowong.

Di dinding, dekat pintu, benda penanda itu sudah dipasang.

Sertifikat dalam bingkai. Atau kunci yang tergantung di paku baru. Atau layar ponsel yang menampilkan angka, angka yang dulu hanya ada di kepala sebagai bayangan, sekarang nyata, hitam di atas putih.

Tubuh berdiri di depannya dan menatap. Mata membaca namanya sendiri di sana, huruf-huruf yang tercetak rapi, tanggal, stempel, garis tepi emas.

Ada gerak halus di dalam yang mencari sesuatu untuk dirasakan saat menatap benda itu. Mencari getaran. Mencari panas kecil di dada.

Yang ada hanya kaca bingkai yang memantulkan wajah sendiri, samar, menumpuk di atas tulisan.

Air dituang ke gelas. Diteguk.

Sama seperti pagi mana pun. Tenggorokan menelan, dingin air turun melewati dada, dan di dada itu tidak ada apa-apa yang berbeda menyambutnya.

Tangan meletakkan gelas di tempat yang sama di meja. Ada bekas lingkar air lama di permukaan kayu, dan gelas itu turun pas di atasnya, menumpuk satu lingkar baru di lingkar yang sudah ada.

Jari menyeka mulut. Hari masih harus dilewati.

Kamar mandi. Air mengalir. Tubuh di bawah pancuran yang sama, ubin yang sama, satu keramik yang retak di pojok bawah yang sudah lama dibiarkan begitu.

Tangan menggosok dengan urutan yang dihafal tubuh. Bahu, lengan, dada. Air hangat turun di tengkuk dan punggung.

Di kepala ada pikiran yang menyelinap masuk: bukankah seharusnya mandi ini terasa lain hari ini. Bukankah air ini menyentuh kulit orang yang sudah berbeda dari kemarin.

Kulit hanya terasa basah. Air hanya terasa hangat lalu mendingin di ujung. Tubuh yang berdiri di bawahnya adalah tubuh yang sama, dengan berat yang sama menggantung di bahu.

Keran ditutup. Tetesan terakhir jatuh dari rambut ke ubin.

Di depan cermin, embun menempel.

Telapak tangan menyapunya, membuka lingkaran bersih di tengah kabut. Wajah muncul di situ. Mata yang sama. Garis yang sama di dahi.

Mata mencari di wajah itu jejak dari apa yang sudah terjadi. Sesuatu yang berubah di sorot mata, di garis rahang, sebuah tanda bahwa orang ini sekarang sudah berdiri di titik yang dulu jauh.

Wajah hanya menatap balik. Sebuah wajah yang baru bangun, yang masih mengantuk di satu sudut, yang menunggu hari sama seperti wajah mana pun.

Sikat gigi diraih. Gerakan tangan naik turun. Busa. Kumur. Ludah ke wastafel.

Pakaian dikenakan satu per satu, seperti biasa.

Kaki masuk ke celana, satu lalu yang lain. Kancing ditutup dari bawah ke atas dengan jari yang tidak perlu melihat. Ada satu kancing yang benangnya mulai longgar, sudah dari minggu lalu, masih longgar pagi ini juga.

Tidak ada yang ringan di gerakan ini. Tidak ada langkah yang lebih ringan menuju lemari hanya karena semalam sesuatu tercapai.

Kaki melangkah dengan berat tumpul yang sama, berat yang menempel di seluruh tubuh sejak bangun, sebelum satu pun masalah muncul di hari itu.

Di meja, secangkir kopi dibuat dengan takaran yang sama.

Sendok masuk ke toples. Bubuk dituang. Air panas dituang sampai ketinggian yang sudah dikenal tangan, di garis yang tak terlihat di dinding cangkir. Uap naik ke wajah.

Tangan menggenggam cangkir. Hangatnya menjalar ke telapak.

Mata menatap permukaan kopi yang gelap. Ada satu titik di tengah yang dipandangi tanpa benar-benar dilihat, sementara waktu lewat, dan di belakang mata ada pertanyaan tumpul yang muncul lalu menghilang sebelum sempat punya bentuk.

Teguk pertama panas di lidah. Sama seperti kemarin. Sama seperti besok.

Ponsel bergetar di meja.

Layar menyala. Sebuah ucapan selamat masuk. Lalu satu lagi. Nama-nama yang dikenal, kata-kata yang baik, tanda seru di ujung kalimat.

Jempol mengetik balasan. Terima kasih. Terima kasih banyak. Jari sudah hafal menyusun kalimat-kalimat itu, dan kalimat-kalimat itu meluncur keluar rapi, sopan, hangat di permukaan.

Di dalam, tempat ucapan itu seharusnya mendarat, hanya ada permukaan datar.

Layar dimatikan. Diletakkan kembali di meja, di sebelah cangkir.

Sepatu dipakai di dekat pintu.

Tubuh duduk di kursi kecil yang sama, menarik tali, menyimpulnya. Ada bagian tumit sepatu yang sudah aus, terkikis miring ke satu sisi, dari ribuan langkah ke arah yang sama.

Tangan menyentuh gagang pintu. Logam dingin di telapak, mengkilap di tempat yang selalu digenggam, kusam di sekitarnya.

Di luar pintu, jalan yang sama menunggu. Pagar tetangga, pohon yang daunnya menguning di ujung, suara kendaraan dari arah yang sama.

Ada sentakan kecil di perut sebelum melangkah keluar—seperti tubuh berhenti sebentar untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang lupa dibawa. Tapi semua sudah dibawa. Tidak ada yang kurang.

Kaki menginjak titik itu sepanjang hari tanpa terasa diinjak.

Di rapat, di antrean, di meja makan siang, tubuh berada di tempat yang dulu adalah tujuan—berdiri di atas tanda yang dulu jauh di seberang. Tanda itu kini ada di bawah telapak kaki, sudah dilewati, dan tanah di atasnya terasa sama dengan tanah mana pun.

Tangan mengaduk makan siang. Suara orang lain mengalir di sekitar. Mulut menjawab saat ditanya, tertawa di tempat yang tepat.

Dan di tengahnya, sekilas, ada jarak. Tangan yang memegang sendok di depan, dan seseorang di belakang mata yang menonton tangan itu, diam.

Sore turun pelan di luar jendela.

Cahaya berubah warna di dinding, dari putih ke kuning ke abu. Benda penanda di dekat pintu masih tergantung di sana, di posisi yang sama, mulai berbayang oleh gelap yang datang.

Tubuh duduk. Punggung bersandar. Hari ini hampir habis—hari pertama setelah sampai, yang lewat persis seperti hari sebelum sampai.

Lampu belum dinyalakan. Ruangan menggelap pelan, sudut demi sudut, dan tubuh masih diam di dalamnya, menunggu, di ruangan yang sama.

End of excerpt · Prologue & Chapter 1

This is only the beginning of the journey. If something here felt close, the rest of the book is waiting — whenever you're ready.

Read the full book · Rp49.000PDF ebook · via lynk.id