Lewati ke konten
Arsip / Volume 12
Sampul buku Alarm Asap, volume 12 Human OS

Modul · P12 · Saraf & Trauma

Alarm Asap

Respon Trauma

Cuplikan: Prolog + Bab 1 · ± 8 menit baca

> prolog

Lampu Merah di Langit-Langit

Ada detektor asap di langit-langit kamar, putih dan bundar, dipasang sedikit miring.

Bentuknya pipih. Beberapa lubang kecil di sisinya. Sebuah tombol di tengah yang tidak pernah ditekan. Di tepinya, satu titik lampu merah yang menyala sebentar, padam, menyala lagi.

Berbaring di tempat tidur pada jam yang tidak bisa tidur, mata menemukan titik itu lebih dulu, sebelum menemukan apa pun yang lain di langit-langit.

Lampu itu berkedip pelan. Sekali setiap beberapa detik. Tidak cepat, tidak gelisah. Hanya menyala, lalu hilang, lalu kembali, dengan jarak yang sama persis tiap kali.

Tidak ada api di mana pun. Tidak ada asap. Tidak ada bau apa pun yang naik dari dapur, dari kabel, dari mana pun di dalam rumah. Semua jendela tertutup. Semua orang sudah tidur. Dan benda itu tetap menyala, tetap padam, tetap menyala—berjaga terhadap sesuatu yang tidak ada di ruangan ini malam ini.

Ia menggantung di sana sepanjang waktu. Juga di siang hari ketika tidak ada yang menatapnya. Juga di malam-malam ketika tidak ada yang terbakar. Siap melengking pada asap setipis apa pun, pada roti yang terlalu lama, pada uap dari panci. Tidak bisa membedakan dapur yang lalai dari rumah yang runtuh. Ia hanya berbunyi, atau berjaga untuk berbunyi.

Mata mengikuti kedipannya. Menyala. Padam. Menyala.

Tidak ada yang bisa dilakukan pada benda itu dari tempat tidur. Ia di sana, di langit-langit, di luar jangkauan tangan, mengerjakan satu hal yang sama tanpa lelah, tanpa diminta, tanpa berhenti.

Langit-langit tetap diam. Lampunya tetap berkedip.

Lalu ada jeda.

Ada titik serupa di sini. Bukan di langit-langit. Di dalam tubuh sendiri.

Bukan lampu yang bisa dilihat dengan mata dalam gelap. Lebih seperti satu tempat di belakang tulang dada yang tidak ikut tidur, yang menyala dan padam dengan caranya sendiri, yang menjaga sesuatu meski seluruh tubuh sudah berbaring diam.

Titik itu juga berjaga sepanjang waktu. Juga di ruangan yang dari segala arah aman—pintu terkunci, orang-orang yang dikenal sudah pulang, tidak ada langkah di luar, tidak ada suara. Dan tetap saja ada bagian di dalam yang menyala sebentar, padam, menyala lagi, mengarah ke pintu, mendengar ke arah lorong, menunggu.

Ia tidak bisa membedakan. Pintu yang menutup terlalu keras di ruangan sebelah, dan tubuh sudah tegak sebelum tahu itu cuma angin. Nada bicara yang berubah sedikit, dan perut sudah mengencang sebelum kalimatnya selesai.

Ada rasa yang naik tipis ke tengkuk saat menyadari titik itu masih bekerja, di jam ini, di kamar ini, di mana tidak ada yang perlu dijaga. Bukan takut yang punya bentuk. Hanya tubuh yang menolak benar-benar terbaring, bahu yang naik sedikit, rahang yang terkatup entah sejak kapan, seperti menjaga sesuatu yang tidak kunjung datang.

Sulit menemukan kapan benda di dalam ini dipasang. Lebih sulit lagi mengingat tubuh sebelum ada lampu yang berkedip itu—apakah dulu pernah ada malam ketika dada benar-benar diam, ketika tidak ada yang menyala dan padam di belakang tulang itu, ketika berbaring berarti benar-benar berbaring.

Tubuh tidak menyimpan jawaban itu. Tubuh hanya menyimpan titiknya. Dan rasa berjaga di atasnya.

Lampu itu tetap di sana. Di langit-langit, dan di dalam.

Malam berjalan. Jam berganti pelan di dinding. Titik merah itu diam, dan terus berkedip.

> bab 01

Sentakan yang Mendahului Pikiran

Sebuah pintu menutup terlalu keras di ruangan sebelah.

Bukan dibanting. Mungkin hanya angin yang menariknya, atau seseorang yang lewat dan melepasnya tanpa menahannya. Satu dentum tumpul yang penuh, memenuhi dinding, lalu hening lagi.

Dan tubuh sudah berada di tempat lain sebelum bunyi itu selesai.

Bahu sudah naik. Naik sampai dekat telinga, mengeras, tanpa ada perintah yang turun dari kepala untuk menaikkannya.

Napas berhenti di tengah jalan. Bukan tertahan dengan sengaja—hanya berhenti, terkunci di bagian atas dada, menunggu sesuatu sebelum diizinkan turun lagi.

Punggung tegak. Otot di sepanjang tulang belakang menarik tubuh menjauh dari sandaran, mengangkatnya beberapa sentimeter, siap.

Mata terbuka sedikit lebih lebar, mengarah ke pintu kamar ini, ke arah suara itu datang.

Semua ini terjadi dalam waktu yang lebih pendek dari satu kata.

Ada sentakan yang menjalar dari tengah dada ke ujung jari.

Cepat. Seperti garis panas yang ditarik lurus dari satu titik di balik tulang rusuk, melewati lengan, sampai ke kuku. Jari-jari berkesemutan di ujungnya, dingin di pucuknya, sementara di dada panas itu masih menyebar ke segala arah.

Tubuh sudah melompat. Bukan melompat berdiri—melompat di dalam, semua bagian dalam sekaligus terangkat, terjaga, mengarah ke arah bunyi tadi.

Dan pikiran belum ada di sana.

Lalu ada jeda.

Sepersekian detik di mana tubuh sudah siaga penuh dan kepala masih kosong. Tubuh sudah berdiri di garis depan, tegak, terkunci, sementara di belakang mata belum ada satu kalimat pun. Belum ada nama untuk apa yang terjadi. Belum ada "itu cuma pintu."

Di ruang sempit itu tubuh dan kepala tidak saling kenal. Yang satu sudah berlari. Yang satu baru bangun.

Hanya tubuh yang sudah tahu lebih dulu, dan pikiran yang tertinggal di belakang, masih dalam perjalanan.

Pikiran datang belakangan.

Datang dengan terengah, beberapa ketukan setelah tubuh sudah siap. Datang membawa kata-kata, mulai menamai apa yang barusan terjadi. Pintu. Ruangan sebelah. Angin.

Telinga menajam ke arah ruangan sebelah, menunggu bunyi kedua. Menunggu langkah. Menunggu suara yang akan menjelaskan. Tidak ada apa-apa. Hanya hening yang kembali turun, sama seperti hening sebelum pintu itu menutup.

Lalu suara di kepala berkata: itu cuma pintu. Cuma angin yang menariknya.

Pikiran menyusul dan bertanya kenapa.

Tidak ada jawaban yang datang.

Kepala sudah tahu sekarang. Tapi tubuh belum ikut tahu.

Bahu masih naik. Rahang masih terkatup. Napas masih tertahan di atas, belum berani turun penuh ke perut. Detak jantung baru terasa sesudah sebagian besar selesai—keras dan cepat di dada, naik sampai ke leher, terdengar di telinga, denyut yang memenuhi kepala dari dalam.

Pengetahuan bahwa tidak ada apa-apa tidak sampai ke otot. Otot punya kabarnya sendiri, dan kabar itu tidak dicabut hanya karena kepala sudah membantahnya.

Ini bukan pertama kalinya.

Kemarin ada piring yang lepas dari tangan di dapur, jatuh ke lantai keramik dan pecah menjadi beberapa keping. Dan sebelum keping pertama berhenti meluncur, tubuh sudah menyentak—kaki mundur selangkah, tangan terangkat setengah, seluruh badan mengencang seperti dipukul dari dalam.

Bunyi pecah itu tajam, lebih tinggi dari dentum pintu, menusuk lurus ke tengah dada. Dan tubuh menyambutnya bukan sebagai piring yang pecah, melainkan sebagai sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang harus dihadapi sekarang juga.

Kepala butuh beberapa saat untuk menurunkannya kembali menjadi piring. Hanya piring. Kepingnya tergeletak di lantai, diam, dan tubuh masih bergetar halus di atasnya.

Beberapa hari sebelumnya, sebuah ban meletus di jalan.

Suara keras dari arah yang tidak terlihat, memantul di antara gedung, dan tubuh sudah menunduk sebelum tahu apa yang terjadi. Kepala merunduk, leher menarik bahu, satu gerakan utuh yang tidak diputuskan—hanya terjadi.

Lalu mata mencari sumbernya dan menemukan mobil yang menepi pelan, ban yang kempis, pengemudi yang turun. Tidak ada apa-apa. Hanya karet yang pecah.

Tapi tubuh sudah terlanjur menunduk. Sudah terlanjur menyambut suara itu sebagai sesuatu yang datang untuk melukai. Dan butuh waktu untuk kembali berdiri tegak seperti orang biasa yang berjalan di trotoar, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja melintas di dalam tubuh.

Selalu bentuknya sama.

Bunyi keras yang mendadak. Tubuh yang menyentak lebih dulu. Pikiran yang menyusul, bertanya, lalu menjelaskan. Dan jarak di antara keduanya—jarak yang tipis tapi nyata, jarak di mana tubuh sudah memutuskan ada bahaya sementara kepala masih kosong.

Di jarak itulah segalanya terjadi. Sebelum penilaian. Sebelum pengukuran. Sebelum kata "aman" atau "tidak aman" sempat dibentuk.

Tubuh tidak menunggu izin untuk melompat. Ia melompat dulu.

Ini seperti detektor di langit-langit.

Asap setipis apa pun naik ke arahnya—roti yang terlalu lama di pemanggang, uap dari panci—dan benda itu melengking. Satu nada tajam memenuhi seluruh rumah. Tidak peduli bahwa tidak ada api. Ia hanya membaca asap, dan asap berarti berbunyi, dan ia berbunyi.

Asapnya sudah hilang. Tidak ada api. Tidak pernah ada api. Dan benda itu tetap melengking lama setelah asapnya keluar dari jendela, satu nada tajam yang mengisi seluruh ruangan, tidak peduli pada penjelasan.

Tidak ada tombol di tubuh untuk menghentikannya. Hanya menunggu sampai ia mereda sendiri, dengan kecepatannya sendiri.

Tubuh perlahan mengizinkan dirinya turun.

Bahu menurun beberapa milimeter, tidak penuh. Napas mulai berani sampai ke bawah, satu kali, lalu tertahan lagi, lalu turun lagi. Punggung pelan-pelan bersandar kembali, tetapi tidak seluruhnya; masih ada sebagian yang menjaga, masih ada sebagian yang tidak mau melepaskan.

Garis panas yang tadi menjalar ke jari sekarang meredup, meninggalkan jejak dingin di ujung-ujung tangan. Ada getaran halus yang masih berjalan di sana, sisa dari sentakan tadi, terlalu kecil untuk dilihat orang lain tapi terasa jelas dari dalam—seperti dengung yang belum mau berhenti.

Pikiran masih di sana, masih memegang pertanyaannya yang tidak terjawab. Kenapa sebesar itu. Kenapa secepat itu. Kenapa untuk sebuah pintu.

Tidak ada yang menutup pertanyaan itu.

Tubuh kembali ke posisinya, kira-kira. Tangan kembali ke apa yang sedang dipegangnya sebelum bunyi tadi. Mata kembali ke titik yang sedang dilihatnya. Dari luar, tidak ada yang berubah; seseorang yang lewat tidak akan tahu bahwa beberapa saat lalu seluruh tubuh ini sudah berdiri siaga terhadap sebuah pintu.

Di dalam, ada sesuatu yang masih menyala pelan. Belum benar-benar padam. Bahu masih naik sedikit, tidak turun penuh. Telinga masih sedikit menajam ke arah ruangan sebelah, masih menyimpan setengah perhatian di sana, berjaga-jaga.

Pintu tetap diam. Sore tetap berjalan. Halaman dibalik, gelas diangkat, diteguk, diletakkan kembali di tempat yang sama. Tubuh tetap di kursinya, sedikit lebih lelah dari sebelum bunyi itu, dan melanjutkan apa yang sedang dilakukannya.

Akhir cuplikan · Prolog & Bab 1

Ini baru awal perjalanannya. Kalau ada bagian yang terasa dekat, sisa bukunya menunggu — kapan pun kamu siap.

Baca utuh · Rp49.000ebook PDF · lewat lynk.id