Jalan Setapak di Lapangan
Ada sehelai garis coklat yang memotong lapangan rumput hijau.
Garis itu tipis, sedikit lebih rendah dari rumput di sekitarnya, tanahnya padat dan telanjang. Ia tidak lurus betul. Ia menyimpang sedikit di satu titik, lalu kembali, mengikuti sesuatu yang tidak terlihat lagi.
Tidak ada papan nama di pangkalnya. Tidak ada yang mengumumkan kapan ia dibuka.
Ia hanya ada di sana, memotong sudut, menuju ke arah yang dituju banyak orang.
Tidak ada satu pun yang merancangnya. Tidak ada tangan yang menggali, tidak ada keputusan yang diambil di suatu pagi untuk membuat jalan di tempat itu. Ia muncul dari kaki demi kaki yang lewat di garis yang sama. Setiap langkah menekan rumput sedikit, hanya sedikit.
Rumput di sini mati karena terlalu sering diinjak. Yang mati membentuk jalan. Kaki berikutnya lewat di situ juga. Di situ tanahnya sudah datar.
Berdiri di tepinya, garis itu terlihat sederhana. Hampir tidak menarik.
Lalu ada jeda.
Ada garis serupa di sini. Bukan di lapangan. Di dalam tubuh sendiri.
Bukan jalan yang bisa ditunjuk dengan jari. Lebih seperti alur di dalam gerak sehari-hari. Tangan yang tahu ke mana harus pergi sebelum ada keputusan. Kaki yang membawa ke arah tertentu. Urutan yang sama, diulang, diulang lagi, sampai tidak terasa lagi seperti diulang.
Garis-garis itu juga tidak dirancang. Tidak ada satu pagi pun yang bisa diingat sebagai pembukaannya. Ia muncul sepetak demi sepetak, dari hari demi hari yang lewat di alur yang sama, tanpa pernah benar-benar memilih alur itu.
Dan seperti rumput yang mati, ada sesuatu di dalam yang sudah datar. Sudah mudah dilewati. Yang dulu mungkin terasa seperti pilihan, sekarang terasa seperti tanah.
Sulit menemukan tepiannya. Lebih sulit lagi mengingat bagaimana lapangan itu tampak sebelum ada garisnya. Apakah dulu seluruhnya hijau. Apakah dulu setiap langkah masih menekan rumput yang utuh.
Tubuh tidak menyimpan jawaban itu. Tubuh hanya menyimpan alurnya.
Buku ini berdiri di tepi jalur semacam itu. Tidak untuk menggali, tidak untuk menutupnya, tidak untuk menanam rumput baru di atasnya.
Hanya untuk menatap.
Gerakan yang diulang cukup lama akhirnya berhenti terasa seperti pilihan. Tangan yang bergerak duluan. Jejak yang ditinggalkan di benda-benda—cekungan di bantal, anak tangga yang aus di tengahnya, gagang pintu yang mengkilap hanya di satu sisi.
Tidak ada pintu keluar yang menunggu di seberang lapangan.
Garis coklat itu tetap di sana. Di tanah, dan di dalam.
Angin lewat. Rumput di kiri-kanan jalur bergoyang. Garis coklatnya diam, padat, terbuka.
Tangan yang Bergerak Lebih Dulu
Pagi belum benar-benar mulai.
Mata masih separuh tertutup, kelopaknya berat, ada lapisan tipis yang menempel di sudutnya. Cahaya kamar masih kabur, belum punya bentuk. Tubuh masih hangat di bawah selimut, masih berat, masih setengah tertinggal di tidur.
Dan tangan sudah meraih.
Tangan kanan keluar dari selimut, menyeberang ke samping bantal, ke titik di mana ponsel selalu diletakkan semalam. Jari-jari menemukan tepinya tanpa melihat. Mengangkatnya. Membawanya mendekat ke wajah.
Layar menyala. Terang yang tiba-tiba, menusuk mata yang belum siap.
Jempol sudah menggeser ke atas.
Tidak ada keputusan di antaranya. Tidak ada satu detik pun di mana ada suara di dalam yang berkata: sekarang aku akan membuka ini. Mata baru terbuka penuh saat layar sudah bergerak, saat deretan gambar sudah meluncur, saat jempol sudah di tengah-tengah gerakannya.
Kesadaran datang terlambat. Datang setelah tangan sudah selesai memutuskan.
Ada jarak ganjil di situ.
Seperti menonton diri sendiri dari setengah langkah di belakang. Tubuh berjalan di depan, dan sesuatu yang menyebut dirinya "aku" tertinggal sedikit, menyusul, melihat punggung tangannya sendiri sudah bekerja.
Gerakannya rapi. Sudah dilatih ribuan kali tanpa pernah merasa berlatih. Ibu jari tahu seberapa jauh harus menggeser. Tahu di mana ikon yang dituju. Tahu urutannya—yang ini dulu, lalu yang itu, lalu kembali ke yang pertama. Jari menempuh rute yang dihafalnya sendiri, di luar kehendak, sebelum kehendak bangun.
Saat mencoba mengingat urutan itu dengan kepala, justru kabur. Tetapi saat dibiarkan, jari menempuhnya tanpa salah.
Bukan hanya pagi.
Sore, di dapur. Tubuh berjalan dari ruang tamu, dan tangan sudah membuka pintu kulkas sebelum kaki berhenti. Mata menatap ke dalam—susunan botol, sisa makanan dalam wadah, cahaya kuning kecil di rak atas. Tidak ada lapar. Tidak ada yang dicari.
Pintu kulkas ditutup kembali.
Sepuluh menit kemudian, kaki sudah membawa tubuh ke titik yang sama. Tangan sudah di gagang yang sama. Pintu terbuka lagi ke pemandangan yang persis sama. Tidak ada yang berubah di dalam. Tidak ada yang berubah di tubuh yang melakukannya.
Ada gatal kecil yang spesifik sebelum gerakan itu datang.
Bukan lapar. Bukan haus. Sesuatu yang lebih samar, di ujung jari atau di tengah dada, semacam bentuk kosong di otot yang menuntut diisi. Tubuh tahu gerakan apa yang biasanya mengisi bentuk itu, dan tubuh sudah mulai bergerak ke arahnya sebelum gatal itu sempat diberi nama.
Rokok yang tiba-tiba sudah di antara dua jari. Kapan diambil dari bungkusnya, tidak benar-benar diingat. Cangkir kopi yang tahu-tahu sudah hangat di telapak tangan. Camilan yang sudah terbuka bungkusnya, di jam yang sama seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti entah sejak kapan.
Tidak pernah ada momen yang terasa seperti memutuskan. Hanya tahu-tahu sudah ada di tangan.
Duduk untuk mengerjakan sesuatu.
Niatnya jelas. Ada layar di depan, ada hal yang harus diketik, ada tujuan yang sebenarnya dipegang dengan cukup tegas. Tubuh duduk. Tangan di papan ketik.
Dalam hitungan detik, tab yang lain sudah terbuka. Situs yang sama. Halaman yang sama. Jari sudah mengetik tiga huruf pertama dari alamat itu, dan alamatnya muncul sendiri, dan tombol sudah ditekan, semuanya sebelum ada keputusan untuk berhenti dari yang seharusnya dikerjakan.
Layar berganti. Pemandangan yang sudah dikenal mengisi mata. Jempol—atau di sini, jari telunjuk di tetikus—kembali ke gerakannya yang terhafal.
Sentakan kecil datang sesaat kemudian. Aku sedang melakukan ini lagi. Bahu sedikit kaget. Napas tersendat satu ketukan.
Tetapi gerakan yang sudah telanjur jalan tetap meneruskan dirinya. Halaman tetap digulir. Yang tahu sudah terlambat untuk yang melakukan.
Malam, lampu sudah dimatikan.
Tubuh sudah berbaring. Niatnya tidur lebih awal kali ini. Punggung di kasur, mata dipejamkan, ruangan gelap dan diam.
Lalu tubuh bangkit. Tangan menyalakan layar. Mengulang gerakan yang persis sama seperti seribu malam sebelumnya. Cahaya kembali menyala di wajah yang tadi sudah siap untuk gelap.
Tidak ada yang memutuskan untuk bangkit. Tubuh hanya bangkit, dan kesadaran menyusul, menemukan dirinya sudah duduk, sudah memegang, sudah menggeser.
Tangan mengetik kata sandi yang tidak benar-benar diingat kepala.
Jari menari di papan, urutannya benar, masuk. Tetapi ketika seseorang bertanya apa kata sandinya, kepala kosong sesaat—harus mencarinya dengan membayangkan gerak jari, bukan dengan mengingat hurufnya. Saat mencoba menyebutnya secara sadar, malah salah. Yang menyimpannya bukan ingatan. Yang menyimpannya tangan.
Begitu juga nomor PIN. Begitu juga jalan pulang.
Menyetir dari satu tempat, dan tangan memutar setir ke arah rumah. Tujuan hari itu bukan rumah. Tetapi tangan tidak tahu itu. Tangan hanya tahu belokan yang sudah ratusan kali ditempuh, dan ia mengambilnya dengan penuh keyakinan, melewati satu persimpangan, lalu satu lagi.
Ngilu tipis di perut datang ketika mata akhirnya menangkap bahwa pemandangan di kaca depan tidak cocok dengan ke mana hari itu seharusnya menuju. Bangunan-bangunan yang lewat adalah bangunan yang salah. Sudah dua belokan terlewat.
Tubuh melangkah ke arah yang salah dengan keyakinan penuh.
Pegangan pintu yang mengkilap di satu sisi saja.
Logamnya pudar di tempat yang tidak disentuh, dan licin berkilau di tempat telapak tangan selalu menggenggam. Tidak ada yang pernah memutuskan untuk memegang persis di titik itu. Tangan hanya jatuh ke situ, hari demi hari, dan logam pelan-pelan menyesuaikan diri dengan tangan.
Gagang itu tidak tahu ke mana pintu menuju. Ia hanya tahu bentuk genggaman yang selalu datang. Ia mengkilap di tempat yang sudah biasa, dan kusam di tempat yang tidak pernah disentuh.
Layar masih menyala di tangan.
Mata sudah benar-benar terbuka sekarang. Jempol sudah berhenti di tengah satu gambar, entah gambar apa. Kesadaran sudah sepenuhnya menyusul, sudah berdiri di tempat yang sama dengan tangan.
Pagi di luar jendela pelan terang. Suara pertama dari jalan mulai masuk. Tubuh masih berbaring, masih hangat, masih memegang.
Jempol bergerak lagi. Layar bergeser lagi.
Hari mulai.

